BBJ harus jadi acuan harga internasional dalam 2 tahun

JAKARTA: Pemerintah memberikan target kepada PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) untuk dapat menjadi acuan harga perdagangan internasional dalam 2 tahun.
Yanto Rachmat Iskandar
Yanto Rachmat Iskandar - Bisnis.com 20 Desember 2010  |  08:58 WIB

JAKARTA: Pemerintah memberikan target kepada PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) untuk dapat menjadi acuan harga perdagangan internasional dalam 2 tahun.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan bursa perdagangan di Indonesia sebagai negara produsen terbesar sejumlah komoditas seharusnya dapat menjadi acuan harga. Namun, lanjutnya, bursa perdagangan berjangka di Indonesia belum dapat mengambil kesempatan tersebut.

Kemendag menargetkan supaya dalam 2 tahun BBJ harus bisa menjadi referensi harga perdagangan komoditas di pasar Internasional, katanya di sela-sela peluncuran Sistem Perdagangan JaFETS 3 dan Kantor Baru BBJ/JFX, hari ini.

Dia mengatakan aktivitas penyelenggaraan perdagangan berjangka komoditas di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan aktivitas serupa di India yang baru menjalankan hal serupa sejak 7 tahun lalu.

Dia menuturkan Multi Commodity Exchange of India yang telah berhasil mencatatkan volume transaksi sebesar 161,2 juta lot pada tahun ini, atau tahun ke-7 sejak penyelenggara perdagangan berjangka itu beroperasi pada 2003.

Sementara itu, lanjutnya, volume transaksi BBJ/JFX yang telah berusia 10 tahun masih berada di kisaran 186.834 lot.

India patut digunakan sebagai benchmark untuk mengembangkan perdagangan berjangka di Indonesia. Apalagi kedua negara memiliki kesamaan berupa negara berkembang dengan pasar yang besar, ujarnya.

Mari memaparkan kontrak berjangka komoditas primer yang diperdagangkan di bursa berjangka Indonesia terhitung rendah.

Dia menuturkan saat ini terdapat 3 komoditas yang diperdagangkan bursa berjangka di dalam negeri yaitu olein, kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan emas beserta turunannya. Ketiga jenis komoditas tersebut, lanjutnya, berkontribusi sebesar 3,62% dari total volume transaksi perdagangan berjangka.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Deddy Saleh mengatakan sampai dengan saat ini bursa berjangka di Indonesia belum menjadi acuan harga internasional produk komoditas meskipun Indonesia termasuk produsen dan pengekspor sejumlah komoditas penting.

Indonesia termasuk salah satu produsen besar komoditas CPO, karet, kakao, dan kopi. Harga dunia jenis komoditas itu bukannya mengacu kepada Indonesia, melainkan banyak yang mengacu kepada negara-negara konsumen, ujarnya. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top