BBJ ditargetkan jadi acuan pasar internasional

JAKARTA: Menteri Perdagangan memberikan target kepada PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) untuk dapat menjadi acuan harga perdagangan internasional dalam 2 tahun.
Aurelia Nelly
Aurelia Nelly - Bisnis.com 20 Desember 2010  |  08:48 WIB

JAKARTA: Menteri Perdagangan memberikan target kepada PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) untuk dapat menjadi acuan harga perdagangan internasional dalam 2 tahun.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan bursa perdagangan di Indonesia sebagai negara produsen terbesar sejumlah komoditas seharusnya dapat menjadi acuan harga. Namun, lanjutnya, bursa perdagangan berjangka di Indonesia belum dapat mengambil kesempatan tersebut.

Kemendag menargetkan supaya dalam 2 tahun BBJ harus bisa menjadi referensi harga perdagangan komoditas di pasar Internasional, katanya di sela-sela peluncuran Sistem Perdagangan JaFETS 3 dan Kantor Baru BBJ/JFX, hari ini.

Dia mengatakan aktivitas penyelenggaraan perdagangan berjangka komoditi di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan aktivitas serupa di India yang baru menjalankan aktivitas serupa sejak 7 tahun lalu.

Dia menuturkan Multi Commodity Exchange of India yang telah berhasil mencatatkan volume transaksi sebesar 161,2 juta lot pada tahun ini, atau tahun ke-7 sejak penyelenggara perdagangan berjangka itu beroperasi pada 2003.

Sementara itu, lanjutnya, volume transaksi BBJ/JFX yang telah berusia 10 tahun masih berada di kisaran 186.834 lot.

India patut digunakan sebagai benchmark untuk mengembangkan perdagangan berjangka di Indonesia. Apalagi kedua negara memiliki kesamaan berupa negara berkembang dengan pasar yang besar, ujarnya.

Mari memaparkan kontrak berjangka komodoti primer yang diperdagangkan di bursa berjangka Indonesia terhitung rendah.

Dia menuturkan saat ini terdapat 3 komoditi yang diperdagangkan bursa berjangka di dalam negeri yaitu olein, kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan emas beserta turunannya.

Ketiga jenis komoditi tersebut, lanjutnya, berkontribusi sebesar 3,62% dari total volume transaksi perdagangan berjangka.

Kami berharap BBJ dapat terus memperbaiki kinerja dan berkomitmen tinggi untuk memperdagangkan kontrak-kontrak berjangka komoditi primer. Kemendag akan terus mendorong pengembangan perdagangan berjangka baik dari aspek hukum dan insentif, ujarnya.

Di sisi lain, dia juga mengimbau seluruh pelaku usaha usaha komoditi primer berpartisipasi aktif bertransaksi melalui bursa berjangka di dalam negeri karena hal itu akan mempercepat mendorong cita-cita Indonesia menjadi negara acuan harga komoditi primer di pasar internasional.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Deddy Saleh mengatakan sampai dengan saat ini bursa berjangka di Indonesia belum menjadi acuan harga internasional produk komoditi meskipun Indonesia termasuk produsen dan pengekspor sejumlah komoditi penting.

Indonesia termasuk salah satu produsen besar komoditas CPO, karet, kakao, dan kopi. Harga dunia jenis komoditas itu bukannya mengacu kepada Indonesia, melainkan banyak yang mengacu kepada negara-negara konsumen, ujarnya.

Dia mencontohkan harga CPO mengacu pada bursa di Malaysia dan Rotterdam, harga karet pada bursa di Thailand, harga kakao ke New York, harga kopi ke London, harga batubara ke Australia, harga timah ke Malaysia, harga emas ke bursa di New York, dan lain-lain.

Itu menjadi tantangan bagi penyelenggara perdagangan berjangka di dalam negeri untuk meningkatkan likuiditas sehingga dapat menjadi referensi harga komoditas di pasar internasional, ujarnya.

Direktur Utama BBJ/JFX Made Sukarwo mengatakan pihaknya terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan aktivitas perdagangan berjangka, terutama komoditi primer.

Salah satunya dengan menyelenggarakan sistem perdagangan online Jakarta Futures Electronic Trading System (JaFETS3).

Selain itu, tambahnya, JFX juga sedang mempersiapkan fasilitas Automatic Price Injection (API) untuk memudahkan para market maker memberikan order beli dan jual selama jam perdagangan.

Dia optimistis sistem perdagangan dan fasilitas baru tersebut akan membantu peningkatan likuiditas perdagangan berjangka komoditi di JFX.

Fasilitas baru tersebut diharapkan dapat menarik investor untuk bertransaksi karena setiap saat akan selalu ada order beli dan order jual, ujarnya.

(02)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top