Apresiasi mata uang Asia berlanjut

JAKARTA: Apresiasi mata uang Asia diperkirakan akan terus berlanjut sampai dengan tahun depan, ditopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan aliran masuk modal asing.Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan derasnya aliran
News Editor
News Editor - Bisnis.com 14 Desember 2010  |  09:17 WIB

JAKARTA: Apresiasi mata uang Asia diperkirakan akan terus berlanjut sampai dengan tahun depan, ditopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan aliran masuk modal asing.Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan derasnya aliran masuk modal asing (capital inflow) dari negara-negara maju ke negara berkembang Asia menyebabkan penguatan nilai tukar mata uang di kawasan tersebut secara berkelanjutan.

Pada tahun depan, pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia masih lebih tinggi dibandingkan negara maju. Di Asia, korporasi akan mencetak laba lebih tinggi sehingga mendorong aliran dana asing, katanya, hari ini.

Ichsan mengemukakan tren apresiasi mata uang akan terjadi ke yuan China (CNY), rupiah Indonesia, dolar Singapura (SGD), bath Thailand (THB), ringgit Malaysia (MYR), dan peso Philipina (PHP) terhadap dolar Amerika Serikat (US$).

Dia memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat menguat hingga level Rp8.500 per dolar AS pada kuartal IV/2011, dibandingkan dengan kuartal IV/2010 yang diperkirakan mencapai Rp8.900.

Penguatan mata uang berdampak positif menekan harga barang impor sehingga dapat membantu menahan inflasi. Bagi Indonesia, hal ini menguntungkan karena konsumsi barang impor di negeri ini cukup tinggi, ujarnya.

Dia mengakui penguatan mata uang juga dapat berdampak pada penurunan nilai ekspor. Namun, menurut dia pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap nilai ekspor Indonesia akan rendah. Sebanyak lebih dari 50% ekspor Indonesia adalah komoditas,saya memperkirakan kenaikan harga komoditas akan lebih tinggi daripada nilai tukar rupiah sehingga dampaknya [penguatan rupiah] ke eskportir kecil, katanya.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top