Harga minyak diprediksi naik US$6 per barel

JAKARTA: International Energy Agency (EIA) memperkirakan harga minyak mentah naik US$6 menjadi rata-rata US$84 per barel pada musim dingin yang berlangsung pada periode Oktober 2010-31 Maret 2011.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 12 Desember 2010  |  06:36 WIB

JAKARTA: International Energy Agency (EIA) memperkirakan harga minyak mentah naik US$6 menjadi rata-rata US$84 per barel pada musim dingin yang berlangsung pada periode Oktober 2010-31 Maret 2011.

Kenaikan ini dipicu lonjakan permintaan dari sejumlah negara khususnya China, kawasan Timur Tengah, Brasil dan AS.Harga tersebut lebih tinggi US$2 dari rata-rata harga minyak mentah pada periode Oktober 2010. Bahkan harga pada akhir tahun depan diperkirakan mencapai US$89 per barel, atau naik US$2 dari proyeksi sebelumnya.Harga minyak mentah untuk kontrak pengiriman Januari menanjak 0,3% menjadi US$88,59 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan akhir pekan. Harga sudah menanjak 6,5% pada pekan lalu yang merupakan kenaikan dalam sepekan terbesar dalam satu bulan.EIA melalui laporan pasar minyak jangka pendek yang dipublikasikan di situs resminya menyebutkan pertumbuhan ekonomi global menjadi pemicu kenaikan permintaan minyak mentah, khususnya di Amerika Serikat (AS), kawasan Timur Tengah, China dan Brasil.Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS yang tercermin dalam gross domestic product (GDP) mencapai 2,7% pada 2010 dan 2,1% pada 2011, sedangkan GDP global diperkirakan mencapai 4% pada 2010 dan 3,2% pada 2011.Seiring pertumbuhan ekonomi tersebut, EIA memperkirakan konsumsi bahan bakar dunia meningkat 2 juta barel per hari pada 2010, setelah pada dua tahun terakhir 2008 dan 2009 berkurang. Dengan demikian total konsumsi global akan menyamai posisi 2007.Pada tahun depan, EIA memperkirakan konsumsi bertumbuh lebih rendah dari tahun ini yakni 1,4 juta barel. Konsumsi minyak mentah AS diperkirakan bertumbuh 200.000 barel per hari pada 2011. Konsumsi minyak mentah dunia diperkirakan rata-rata mencapai 88,8 juta barel per hari pada tahun depan, atau 260.000 barel lebih tinggi dari perkiraaan semula.Peningkatan konsumsi ini akan mendesak organisasi negara-negara pengekspor minyak untuk menaikkan pasokan pada awal tahun depan.Analis riset Valbury Asia Futures Ahim menyatakan menurut survey Thomson Reuters/University of Michigan, rilis data ekonomi AS akhir pekan lalu menguatkan sinyalemen pemulihan ekonomi AS dimana data menunjukkan sentimen konsumen naik lebih dari yang diharapkan pada awal Desember.Harga impor pada November naik dengan percepatan tertinggi dalam setahun. Sinyal positif lainnya datang dari Departemen Perdagangan, yang memperlihatkan defisit perdagangan AS untuk Oktober menyempit lebih dari yang diperkirakan. Berita-berita dari negara lain turut membantu, yakni impor dan ekspor China melonjak pada November dan pinjaman perbankan melampaui proyeksi dan investasi properti meningkat.China juga meningkatkan rasio kecukupan modal bagi perbankan, namun mempertahankan suku bunga. Harga minyak mentah sempat ditransaksikan hingga sentuh level tertinggi dua tahun pada sepekan lalu setelah data ekonomi AS menunjukkan angka pengangguran turun 17.000 menjadi 421.000.Data sektor manufaktur China bertumbuh tercepat dalam empat bulan untuk periode November, yakni naik menjadi 55,2 dari 54,7. Permintaan minyak mentah dari China bertumbuh 12,6% pada Oktober.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top