Indeks 2011 diyakini tembus 4.000

JAKARTA: Sejumlah analis menyatakan optimistis indek harga saham gabungan (IHSG) pada 2011 bisa menembus kisaran level 4.000.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  17:10 WIB

JAKARTA: Sejumlah analis menyatakan optimistis indek harga saham gabungan (IHSG) pada 2011 bisa menembus kisaran level 4.000.

Analis Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckhere memprediksi IHSG akan naik sekitar 15%-20% mencapai level 4.200 4.500. Laporan keuangan akhir tahun emiten yang diprediksi memeroleh peningkatan laba rata-rata 20% menjadi salah satu sentimen positif yang memengaruhi pergerakan indeks tahun depan."2011, earning per share per perusahaan kan diperkirakan naik 20%. Ini berpengaruh pada indeks dan sepertinya peningkatan indeks juga sekitar 15%-20%," ujarnya, tadi malam.Selain itu, prediksi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang bisa kembali ke kisaran Rp8.800 Rp8.900 menjadi sentimen positif lainnya. Rencana moodys untuk meningkatkan peringkat Indonesia menjadi investment grade dan perkiraan pergerakan indeks bursa global yang masih datar juga menjadi pengaruh besar bagi pergerakan indeks dan menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia."Untuk bursa global justru sepertinya tidak banyak tumbuh. Dan Indonesia kan sudah hampir dipastikan naik menjadi investment grade. Ini pengaruhnya sangat besar dan bisa menarik investor masuk ke Indonesia," jelasnya. Adapun kekhawatiran menaiknya tingkat inflasi di Indonesia dan berpengaruh kepada tingkat suku bunga acuan (BI rate), Nico menilai hal tersebut seharusnya tidak menjadi kekhawatiran yang besar."Karena BI rate di 6,5% itu sudah cukup rendah sebenarnya. Jadi kalaupun inflasi naik dan BI rate naik menjadi 7% sebenarnya tidak perlu khawatir berlebihan. Itu masih mendukung perseroan, karena Indonesia biasa dengan suku bunga yang tinggi," tambahnya.Sebelumnya, Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi juga berharap IHSG bisa tumbuh 20% pada 2011. Sebagai negara berkembang (emerging market), lanjutnya, Indonesia berpotensi untuk menerima aliran dana asing. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan penambahan perusahaan terbuka serta peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia terkait pasar modal.Michael mengatakan setidaknya ada tiga hal yang dilihat oleh investor untuk berinvestasi di suatu negara, yakni regulasi, infrastruktur, dan kebijakan moneter dan fiskal. Dengan kondisi Amerika dan Eropa yang kurang baik, negara berkembang menjadi alternatif investor untuk berinvestasi.Adapun untuk sektor saham yang masih berpotensi meningkat pada tahun depan adalah sektor komoditas seiring dengan peningkatan harga komoditas. Serta sektor perbankan dan properti seiring dengan suku bunga yang diprediksi tidak akan naik banyak. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top