Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tak Terhalang Krisis Batu Bara, Adaro Genjot Proyek PLTU Batang

Adaro berupaya merampungkan pengembangan PLTU Batang berkapasitas 2x1.000 MW di tengah pembatasan ekspor batu bara.
Presiden Joko Widodo resmikan PLTU Batang, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2015)./Antara
Presiden Joko Widodo resmikan PLTU Batang, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2015)./Antara

Bisnis.com, JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) tengah menggenjot penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, meskipun masih terjadi krisis batu bara di dalam negeri.

Head of Corporate Communication ADRO Febriati Nadira mengatakan bahwa sampai akhir kuartal III/2021 PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) telah mencapai perkembangan konstruksi 95,8 persen pada pembangkit listrik di Batang, Jawa Tengah.

Adapun kapasitas pembangkit listrik tersebut nantinya mencapai 2x1.000 MW. BPI saat ini fokus untuk merampungkan konstruksinya sesegera mungkin agar dapat segera beroperasi komersial.

“PLTU Batang setelah beroperasi akan menyuplai listrik di Jawa-Bali dan membutuhkan sekitar 7 juta-8 juta ton batu bara per tahun, yang mayoritas/sebagian besar akan disuplai oleh Grup Adaro sebanyak 60 persen-65 persen,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (18/1/2022).

Adapun, dengan adanya krisis batu bara domestik saat ini, pembangunan PLTU Batang tak terpengaruh. Sementara Adaro juga terus mengupayakan pemenuhan kebijakan pasar domestik (DMO) yang berlaku.

“Mematuhi peraturan ketentuan DMO serta memenuhi kebutuhan dan pasokan batu bara untuk dalam negeri merupakan prioritas Adaro,” imbuhnya.

Untuk 2021, DMO Adaro sekitar 11,1 juta ton. Adapun, realisasi penjualan domestik pada Januari-Oktober 2021 sebesar 9,69 juta ton.

“Dengan tambahan penjualan di November dan Desember 2021, estimasi total penjualan batu bara ke domestik untuk tahun 2021 adalah 26 persen-27 persen dari total produksi, lebih dari yang disyaratkan 25 persen,” jelasnya.

Di tengah krisis pasokan batu bara ke PLN, Adaro juga mendapatkan penugasan tambahan produksi sebanyak 500.000 ton dan sudah bersepakat dengan Kementerian ESDM serta PLN untuk segera dipenuhi.

“Kami berharap peraturan di industri batu bara dapat membuat perusahaan nasional seperti Adaro tetap bisa ikut mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi kepada negara dalam bentuk royalti, pajak, tenaga kerja, CSR dan lain-lain,” sambungnya.

Adapun, selama Januari–September 2021, kontribusi Adaro terhadap Pemerintah RI melalui royalti dan pajak penghasilan mencapai US$510 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper