Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ancaman Government Shutdown Bebani Wall Street

Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) kehilangan tenaganya pada perdagangan Selasa (11/12/2018), akibat terbebani isu geopolitik termasuk potensi penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di AS.

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) kehilangan tenaganya pada perdagangan Selasa (11/12/2018), akibat terbebani isu geopolitik termasuk potensi penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,22% atau 53,02 poin di level 24.370,24 dan indeks S&P 500 turun tipis 0,04% atau 0,94 poin di 2.636,78. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite mampu berakhir naik 0,16% atau 11,31 poin di level 7.031,83.

Indeks S&P 500 diperdagangkan di kisaran yang luas antara 1,4%-0,6%.

Wall Street sempat mengalami pergerakan yang kuat menyusul laporan bahwa China sedang mempersiapkan untuk memangkas tarif impor pada mobil-mobil buatan Amerika. Oleh pelaku pasar, ini dilihat sebagai tanda China siap membuat konsesi mengenai perdagangan.

Laporan itu muncul setelah Wakil Perdana Menteri China Liu He bertukar pandangan tentang tahap pembicaraan perdagangan berikutnya dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Perdagangan Robert Lighthizer.

Akan tetapi, bursa saham AS tak lama kehilangan tenaganya dan melemah setelah Trump secara terbuka berdebat tentang pendanaan pemerintah dengan dua anggota parlemen Demokrat dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih.

Hal ini serta merta meningkatkan keraguan tercapainya kesepakatan menjelang tenggat waktu akhir bulan ini.

“Pendorong utama volatilitas hari ini adalah berita politik dan geopolitik,” kata Carol Schleif, deputy chief investment officer di Abbot Downing, seperti dilansir dari Reuters.

“Kita tidak dapat mengendalikan pemberitaan tetapi hal yang dapat kami tekankan adalah bahwa fundamental yang mendasarinya tetap solid,” tambah Schleif.

Berbanding terbalik dengan Wall Street, sentimen optimisme perdagangan AS-China mampu mendorong pulihnya bursa saham Eropa pada perdagangan Selasa.

Indeks Stoxx 600 Eropa berakhir menanjak 1,5%, diikuti indeks saham zona euro yang naik 1,3%. Sementara itu, indeks saham DAX Jerman, yang paling sensitif terhadap isu perdagangan China, menanjak 1,5%.

Kendati demikian, ketidakpastian atas hengkangnya Inggris dari Uni Eropa, atau Brexit, terus menghantui para investor dan menahan nilai tukar pound sterling di kisaran level terendahnya dalam 20 bulan setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May menunda pemungutan suara di parlemen terkait kesepakatan Brexit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper