Bursa Asia Lautan Merah, IHSG Masih Tahan Banting di Level 6.100

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekali lagi membuktikan daya tahannya saat pasar saham global terdera kekhawatiran perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani | 06 Desember 2018 17:58 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekali lagi membuktikan daya tahannya saat pasar saham global terdera kekhawatiran perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

IHSG berakhir turun 0,29% atau 17,63 poin di level 6.115,49 pada perdagangan hari ini, Kamis (6/12/2018), mengikis pelemahan yang dibukukan sebelumnya setelah dibuka melemah 0,62% atau 38,11 poin di posisi 6.095 pagi tadi.

Pada perdagangan Rabu (5/12), IHSG juga mampu mengurangi sebagian pelemahannya dengan berakhir turun 0,32% atau 19,74 poin di level 6.133,12, setelah dibuka melemah 0,90% atau 55,22 poin di level 6.097,64.

Meski ditutup terkoreksi di zona merah pada hari kedua berturut-turut, IHSG tetap mampu mempertahankan posisinya di level psikologis 6.100. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 6.086,13 – 6.131,63.

Enam dari sembilan sektor berakhir di teritori negatif, dipimpin sektor aneka industri (-2,39%) dan pertanian (-1,33%). Adapun tiga sektor lainnya mampu menetap di zona hijau, dipimpin sektor konsumer yang naik 0,41%.

Dari 618 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 149 saham menguat, 259 saham melemah, dan 210 saham stagnan.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) yang turun 2,70% dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang turun 1,59% menjadi penekan utama terhadap koreksi IHSG pada akhir perdagangan hari ini.

Di sisi lain, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing naik 15,38% dan 0,57% menjadi pendorong utama sekaligus membantu membatasi besarnya koreksi IHSG hari ini.

Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing pun berlanjut pada perdagangan hari ini, meski relatif lebih kecil ketimbang yang dicatatkan pada hari sebelumnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net sell sebesar Rp395,90 miliar pada perdagangan hari ini.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 mampu mengikis pelemahannya dan ditutup turun 0,45% atau 2,49 poin di level 550,69, setelah dibuka melemah 0,90% atau 5 poin di level 548,18.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau juga melemah sore ini, di antaranya indeks PSEi Filipina (-1,25%), indeks FTSE KLCI Malaysia (-0,29%), indeks FTSE Straits Times Singapura (-1,28%), dan indeks SE Thailand yang melemah 1,10% pada pukul 16.20 WIB.

Beberapa indeks saham utama di Asia bahkan merosot antara 1,5%-2,5%. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup merosot 1,82% dan 1,91%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan berakhir melemah 1,55%.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing berakhir merosot 1,68% dan 2,16%, diikuti indeks Hang Seng Hong Kong yang anjlok 2,47%.

Hanya dalam tiga hari, penguatan pasar saham global yang terlihat pada akhir pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati ‘gencatan senjata’ atas konlfik perdagangan antara kedua negara telah lenyap.

Nilai ekuitas di Asia merosot dari level tertingginya pada Januari menjadi US$6,2 triliun, menurut data Bloomberg.

Kabar penangkapan Chief Financial Officer (CFO) Huawei Technologies Co., Meng Wanzhou, yang juga adalah putri pendiri raksasa teknologi asal China tersebut, di Kanada menyulut protes otoritas China dan mendorong munculnya kembali kekhawatiran perang dagang.

Sentimen tersebut serta merta membebani saham perusahaan-perusahaan teknologi dan pemasok perangkat keras. Huawei diketahui merupakan salah satu pembuat handset dan peralatan jaringan telekomunikasi terbesar di dunia.

“Kita sudah memiliki isu perdagangan, dan sekarang ada sentimen lain yang menekan,” kata Steven Leung, direktur eksekutif di UOB Kay Hian (Hong Kong) Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

"Sebelumnya, pasar masih memiliki optimisme bahwa akan ada periode pendinginan dari perang dagang, tapi sekarang hal tersebut hilang,” lanjutnya.

Menurut  Zhang Gang, analis Central Securities, aksi pelepasan saham meluas pada hari ini menunjukkan masih lemahnya kepercayaan investor dan kurangnya momentum bagi pasar untuk rebound.

“Selain itu, kita mendekati akhir tahun, dan mengingat kondisi pasar, sebagian dana akan memilih untuk keluar dari pasar dan menanti.”   

Ada pula analis yang mengutarakan faktor lain atas aksi jual hari ini. Ben Kwong, direktur riset di KGI Asia, berpendapat Huawei bukan satu-satunya alasan untuk skeptisisme di dalam pasar.

“Pasar mengkhawatirkan penyesuaian lebih lanjut dalam pasar saham AS, kurva imbal hasil yang membalik, dan ekonomi yang melambat,” katanya.

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

(%)

ASII

-2,70

TLKM

-1,59

BMRI

-1,32

UNTR

-2,44

TKIM

-6,96

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

TOWR

+15,38

BBCA

+0,57

AMRT

+10,00

UNVR

+1,03

CPIN

+1,84

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top