Asing Mulai Borong Surat Berharga Negara

Porsi kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah akibat aksi beli sepanjang kuartal IV/2018. Pencapaian itu juga menandakan optimisme global terhadap prospek Indonesia.
Emanuel B. Caesario | 30 November 2018 19:50 WIB
Ilustrasi Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA— Porsi kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah akibat aksi beli sepanjang kuartal IV/2018. Pencapaian itu juga menandakan optimisme global terhadap prospek Indonesia.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa posisi kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) per Rabu (28/11) mencapai Rp899,19 triliun.

Kendati demikian, hal tersebut tidak berarti persentase kepemilikan investor asing meningkat jauh sebab total outstanding SBN pun terus meningkat. Kepemilikan asing kini sudah mencapai 37,74% dari total outstanding SBN Rp2.382,5 triliun.

Sepanjang November, kepemilikan asing pada SBN ini sudah bertambah Rp34,87 triliun, sedangkan kumulatif kuartal IV/2018 sudah bertambah Rp48,34 triliun. Anup mengatakan, nilai ini merupakan nilai net buy terbesar sepanjang sejarah untuk periode kuartal IV.

“Jadi, ada dua rekor, yakni titik tertinggi nilai kepemilikan asing pada SBN sepanjang sejarah, sekaligus net buy terbesar periode kuartal IV sepanjang sejarah. Artinya, ada peningkatan kepercayaan diri asing yang tinggi saat ini,” katanya, Jumat (30/11).

Adapun, dengan derasnya arus masuk asing pada kuartal IV/2018, net buy asing sepanjang 2017 tercatat sudah mencapai Rp63,04 triliun. Nilai ini kalah jauh dibandingkan net buy 2016 dan 2017 yang masing-masing Rp107,29 triliun dan Rp168,88 triliun. Maklum, sebelum kuartal IV/2018, investor asing lebih sering tercatat net sell sepanjang tahun ini.

Anup menilai, ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama, terbitnya instrumen Domestic Non Delivery Forward (DNDF) menyebabkan spread antara kurs pasar spot dengan DNDF menyempit sebab instrumen ini meningkatkan kepercayaan diri asing terhadap rupiah.

Alhasil, ekspektasi pelemahan rupiah menjadi tidak terlalu besar sehingga investor asing lebih percaya diri membeli SBN melalui pemanfaatan DNDF.

Kedua, turunnya harga minyak dunia memberi ruang gerak bagi Indonesia yang masih net import minyak sehingga potensi pelebaran CAD  berkurang. Ketiga, ada ekspektasi meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Keempat, faktor yang menurutnya paling penting, yakni keputusan Kementerian Keuangan untuk membatalkan sisa lelang yang seharusnya digelar pekan ini hingga Desember mendatang. Padahal, diperkirakan sekitar 60% dana asing di SBN merupakan dana bond fund yang asih membutuhkan penempatan di instrumen SBN Indonesia.

“Supply SBN sekarang sudah tidak ada lagi di pasar primer, padahal demand-nya masih ada. Mau tidak mau mereka mencari instrumen-nya di pasar sekunder sehingga harga obligasi kita sekarang naik, atau yield turun,” katanya.

Tag : Obligasi, surat utang negara
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top