Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Tunggu Hasil Pertemuan AS-China

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan bergerak bervariasi dengan potensi flat pada perdagangan Jumat (30/11/2018).
Emanuel B. Caesario | 30 November 2018 08:57 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan bergerak bervariasi dengan potensi flat pada perdagangan Jumat (30/11/2018).

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa pertemuan yang dinanti-nanti antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhirnya akan berlangsung. Keduanya dijadwalkan bertemu di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)N G20 di Buenos Aires, Argentina, pekan ini.

"Sekalipun pertemuan tersebut berjalan dengan tidak lancar, kami menilai bahwa meskipun AS memberikan tarif atas impor dari China, suka atau tidak, percaya atau tidak, China masih tetap menjadi mitra dagang terbesar bagi AS, dengan negara impor terbesar untuk AS adalah China yang disusul Meksiko dan Kanada," paparnya dalam riset harian, Jumat (30/11). 

Nico mengungkapkan pertemuan ini akan menjadi tolok ukur seberapa jauh China akan membuka diri terhadap pasar global. 

Selepas dari sana, FOMC Meeting pada Kamis (29/11) waktu setempat memperlihatkan bahwa hampir semua pejabat The Fed melihat bahwa kenaikan tingkat suku bunga akan dilakukan segera dan The Fed akan melakukan pendekatan yang lebih fleksibel pada tingkat suku bunga. 

"Kami merekomendasikan hold hari ini dengan menanti pertemuan yang akan berlangsung di Buenos Aires, pekan ini," terangnya.

Pasar obligasi berbalik arah menjadi penguatan setelah mendapatkan vitamin dari pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell. Meskipun, diperkirakan tidak mengubah kenyataan bahwa pasar obligasi sedang berada di area overbought sehingga tetap tidak akan bertahan lama untuk berada di atas.

Sebelumnya, Powell mengatakan bahwa tingkat suku bunga saat ini berada sedikit di bawah perkiraan, yang tidak berpengaruh negatif maupun positif terhadap ekonomi yang sehat.

Di pasar global, imbal hasil obligasi Zona Amerika ditutup turun di semua negara. Penurunan imbal hasil terbesar ada di Meksiko (9.05%, -12.0). 
 
Imbal hasil wilayah Zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar ada di Siprus (2.4%, +1.1), sedangkan penurunan terdalam di Yunani (4.23%, -6.7). 
 
Imbal hasil Asia Pasifik ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikan tertinggi di Australia (2.60%, +0.7) dan penurunan terbesar di Indonesia (7.76%, -8.5). 
 
Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup menguat di 7,90%, dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 7,94%.

Tag : Obligasi, perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top