Harga Batu Bara Naik Lagi

Harga batu bara berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Rabu (28/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 29 November 2018 08:37 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara berhasil melanjutkan penguatannya pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Rabu (28/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup menguat 1,36% atau 1,35 poin di level US$100,85 per metrik ton, level penutupan tertinggi untuk kontrak tersebut dalam lebih dari sepekan.

Harga batu bara melanjutkan penguatannya setelah berakhir menanjak 1,38% atau 1,35 poin di posisi 99,50 pada perdagangan Selasa (27/11).

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 juga melanjutkan penguatannya pada hari ketiga dengan berakhir naik 0,18% atau 0,15 poin di level 85,05 kemarin.

Sementara itu, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange berhasil rebound ke zona hijau dengan ditutup naik 0,27% atau 1,6 poin di level 602,6 yuan per metrik ton pada perdagangan Rabu, setelah berakhir melemah tiga hari berturut-turut sebelumnya.

“Prospek permintaan bergantung pada kemampuan pembangkit listrik untuk mengosongkan persediaan pada bulan November dan Desember,” papar Nanhua Futures dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

“Mengingat proyeksi untuk suhu yang lebih tinggi dari biasanya pada Desember, rasanya tidak tepat untuk berharap terlalu banyak dari fase penurunan stok.”

Berbanding terbalik dengan batu bara, harga minyak mentah berakhir anjlok pada perdagangan Rabu (28/11), menyusul peningkatan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS. Hal tersebut menambah kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan menjelang pertemuan antara eksportir utama Rusia dan Arab Saudi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Januari 2019 anjlok sekitar 2,5% atau 1,27 poin di level US$50,29 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari 2019 ditutup anjlok 2,41% atau 1,45 poin di level US$58,76 per barel di bursa ICE Futures Europe London.

Dilansir dari Bloomberg, harga minyak turun menyusul laporan dari Energy Information Administration (EIA) bahwa pasokan minyak dalam negeri naik untuk 10 pekan berturut-turut, didukung oleh meningkatnya impor.

EIA mengatakan bahwa stok minyak mentah nasional melonjak 3,58 juta barel pekan lalu, jauh di atas kenaikan 1 juta barel yang diprediksi oleh para analis dalam survei Bloomberg.

Sementara itu, pelaku pasar tetap fokus pada pertemuan yang diharapkan dalam KTT G20 di Argentina antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

OPEC dan sekutu-sekutunya sedang mempertimbangkan pemangkasan produksi 1 juta barel per hari atau lebih pada pertemuan pekan depan di Wina, dalam upaya menstabilkan harga yang anjlok lebih dari 30% sejak Oktober.

"Semua orang menanti pertemuan OPEC untuk menentukan arah harga dan hal itu akan sangat bergantung pada seberapa besar pemotongan itu," ungkap Adam Wise, yang mengelola portofolio minyak dan gas senilai US$9 miliar untuk John Hancock Financial Services Inc., seperti dikutip Bloomberg.

Arab Saudi dan Nigeria yakin bahwa OPEC dan mitranya akan berhasil menstabilkan harga, ungkap menteri energi Khalid Al-Falih dan Emmanuel Ibe Kachikwu mengatakan pada wartawan di Abuja.

Menambahkan sentiment ketidakpastian, Putin mengatakan bahwa harga Brent saat ini di sekitar US$60 per barel adalah "benar-benar baik" untuk negaranya. Padahal, dua pekan lalu dia mengatakan Rusia cukup puas dengan level harga di US$70.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

28 November

100,85

(+1,36%)

27 November

99,50

(+1,38%)

26 November

98,15

(+0,31%)

23 November

97,85

(-0,56%)

22 November

98,40

(+0,05%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top