MNC Sekuritas: Harga SUN Diproyeksi Bergerak Terbatas Jelang Lelang Hari Ini

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih akan bergerak terbatas pada awal perdagangan Rabu (21/11/2018), menjelang pelaksanaan lelang penjualan SUN pada hari ini.
Emanuel B. Caesario | 21 November 2018 09:39 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih akan bergerak terbatas pada awal perdagangan Rabu (21/11/2018), menjelang pelaksanaan lelang penjualan SUN pada hari ini.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan bahwa pada lelang hari ini, pemerintah menawarkan enam seri SUN dengan target penerbitan Rp10 triliun-Rp20 triliun. Arah pergerakan harga SUN akan dipengaruhi oleh hasil pelaksanaan lelang tersebut.

Adapun dari faktor eksternal, koreksi yang terjadi pada pasar saham global berpotensi mendorong terjadinya kenaikan persepsi risiko terhadap instrumen surat utang negara-negara berkembang.

"Hal tersebut kami perkirakan akan berdampak terhadap perdagangan SUN dengan denominasi dolar AS," paparnya dalam riset harian, Rabu (21/11).

Made melanjutkan dengan adanya agenda lelang hari ini, investor disarankan untuk mencermati hasil pelaksanaan lelang.

"Dengan masih terbukanya peluang kenaikan harga SUN di pasar sekunder, maka kami menyarankan kepada pelaku pasar untuk melakukan strategi trading jangka pendek, dengan pilihan beberapa seri yang kami anggap masih cukup menarik yaitu FR0069, SR008, SR009, FR0053, FR0061, FR0035, FR0043, FR0063, FR0070, FR0054, FR0058, FR0074, FR0068, FR0072, dan FR0045," sebutnya.

Pada perdagangan Senin (19/11), imbal hasil SUN bergerak terbatas dengan arah perubahan yang bervariasi di tengah rendahnya volume perdagangan di pasar sekunder. Perubahan tingkat imbal hasil berkisar 1-5 bps dengan rata-rata perubahan 2 bps, di mana perubahan yang bervariasi terjadi di seluruh tenor.

Imbal hasil tenor pendek berubah antara 1-4 bps, sedangkan untuk tenor menengah mengalami perubahan hingga 5 bps. Sementara itu, yield SUN tenor panjang pada perdagangan berubah antara 1-4 bps.

Terbatasnya perubahan imbal hasil pada perdagangan Senin (19/11) juga didapati pada SUN seri acuan, tapi  hanya di kisaran 1 bps. Imbal hasil seri acuan dengan tenor 5 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun mengalami perubahan kurang dari 1 bps sehingga tingkat imbal hasilnya masing-masing berada pada level 7,921%; 8,284% dan 8,423%.

Adapun penurunan yield sebesar 1 bps didapati pada seri acuan dengan tenor 10 tahun sehingga tingkat imbal hasilnya berada pada level 7,993%.

Terbatasnya pergerakan imbal hasil SUN pada Senin (19/11) dipengaruhi oleh pelaku pasar yang menahan diri melakukan transaksi jelang hari libur nasional pada Selasa (20/11) serta menjelang lelang pada hari ini.

Minimnya katalis dari dalam negeri juga menyebabkan terbatasnya pergerakan harga SUN di pasar sekunder. Pelaku pasar yang menahan diri untuk melakukan transaksi tercermin pada volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang tidak begitu besar, yaitu hanya Rp5,37 triliun.

Nilai tersebut berasal dari 31 seri SBN yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp1,83 triliun.

Obligasi Negara seri FR0063 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp1,28 triliun dari 10 kali transaksi di harga rata-rata 91,49%. Diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp737,75 miliar dari 25 kali transaksi di harga rata-rata 101,52%.

Sementara itu, Sukuk Negara Ritel seri SR010 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar,  yakni Rp77,19 miliar dari 9 kali transaksi di harga rata-rata 96,17%. Disusul oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS019 senilai Rp50,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 99,61%.

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp403,71 miliar dari 30 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan I Sarana Multi Infrastruktur Tahap I Tahun 2016 Seri B (SMII01BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp90 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata 100,00%. Diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2013 (BBTN01CN2) senilai Rp40 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata 100,00%.

Dari perdagangan SUN berdenominasi dolar AS, perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi juga terbatas dengan arah perubahan yang bervariasi. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kembali naiknya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS).

Imbal hasil dari INDO43 mengalami kenaikan 2 bps di level 5,466% setelah mengalami penurunan harga sebesar 20 bps. Adapun yield INDO23 dan INDO28 tidak banyak mengalami perubahan, dengan perubahan kurang dari 1 bps sehingga masing-masing berada di level 4,353% dan 4,826%.

Pada Selasa (20/11), imbal hasil surat utang negara-negara maju ditutup turun seiring dengan adanya koreksi pada pasar saham global yang mendorong permintaan terhadap instrumen yang lebih aman (safe haven asset).

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing ditutup turun ke level 3,061% dan 3,314% setelah Dow Jones terkoreksi 551,18 bps atau 2,21% dan indeks NASDAQ turun 119,65 pts atau 1,7%.

Surat utang Jerman ditutup turun pada level 0,354% setelah indeks DAX ditutup melemah 178,13 bps atau 1,58%. Imbal hasil surat utang Inggris juga turun ke level 1,383% setelah pasar sahamnya mengalami koreksi 52,97 bps atau 0,76%.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 24 bps atau 0,16% di level Rp14.587,5 pada Senin (19/11). Penguatan ini didukung oleh kesepakatan Bank Indonesia (BI) dan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) untuk memperbarui perjanjian swap bilateral pada Jumat (16/11).

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top