CALON EMITEN: Distribusi Voucher Nusantara Bidik Pendapatan Rp1,28 triliun pada Akhir 2018

Calon emiten PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk. memprediksi capaian pendapatan pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Hal tersebut terjadi karena investasi besar-besaran perseroan pada sistem digital.
Dara Aziliya | 21 November 2018 15:34 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Calon emiten PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk. memprediksi capaian pendapatan pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Hal tersebut terjadi karena investasi besar-besaran perseroan pada sistem digital.

Direktur Distribusi Voucher Nusantara Dian Kurniadi menyampaikan bahwa pada tahun lalu, banyak aktivitas bisnis perseroan yang dilakukan secara manual. Sebagai perusahaan digital berkembang, perseroan pun melakukan digitalisasi pada sistem kerja perseroan.

“Kami baru saja melakukan revamp teknologi, dari tadinya traditional business, kami dorong jadi digital. Hal itu membuat topline kami turun tetapi secara margin meningkat karena ada efisiensinya. Ke depan, secara jangka panjang margin kami pasti akan bagus,” ungkap Dian di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Adapun, berdasarkan riset Kresna Sekuritas, sampai akhir 2018 perseroan diprediksi membukukan pendapatan Rp1,28 triliun atau 25,14% lebih rendah dari 2017 yang sebesar Rp1,71 triliun.

Kendati laba bersih tergerus, kenaikan margin menopang laba bersih Diva yang diprediksi mencapai Rp8,8 miliar pada 2017 dari tahun lalu yang sebesar Rp2,2 miliar.

Setelah infrastruktur digital mapan, perseroan pun mulai mengembangkan platform-platform baru seperti Intelligence Instant Messaging ((IM) dan Smart Outlets yang diperuntukkan untuk UMKM.

Direktur Distribusi Voucher Nusantara Stanley Chandra menyampaikan bahwa setelah IPO, perseroan akan lebih agresif melakukan pengembangan-pengembangan jasa digital di bidang pariwisata, saham, dan healthcare.

Menurut Stanley, perseroan telah melakukan penghitungan investasi di mana 3 tahun ke depan atau hingga 2021, perseroan membutuhkan dana sekitar Rp632 miliar untuk pengembangan bisnis, belanja modal, dan SDM. Dana itu lalu dirumuskan dalam kebutuhan IPO.

“Di 2018 ini kami fokus untuk produk-produk dengan margin lebih tinggi sehingga ada beberapa channel kami yang akan menghadapi adjustment. Namun hasilnya gross margin kami dan bottomline kami meningkat,” kata Stanley.

Tag : emiten, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top