Satria Mega Kencana Targetkan Dana Rp60 Miliar dari IPO

Calon emiten baru di sektor properti PT Satria Mega Kencana Tbk. menetapkan perkiraan harga penawaran umum perdana saham perseroan antara Rp150 – Rp167 per saham.
Emanuel B. Caesario | 21 November 2018 14:22 WIB
Seorang pria melintasi layar elektronik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (19/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Calon emiten baru di sektor properti PT Satria Mega Kencana Tbk. menetapkan perkiraan harga penawaran umum perdana saham perseroan antara Rp150 – Rp167 per saham.

Perusahaan yang bergerak di bidang usaha properti dan kawasan pariwisata ini berencana meleps 400 juta saham baru kepada investor publik melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering/ IPO ini.

Setelah IPO ini, jumlah saham perseroan akan meningkat menjadi 1 juta saham, sehingga saham baru ini setara dengan 40% dari total modal ditempatkan dan disetor penuhu perseroan setelah penawaran umum. Nominal saham perseroan adalah Rp100 per lembar.

Bersamaan dengan IPO ini, perseroan juga menerbitkan waran seri I sebanyak-banyaknya 200 juta lembar. Setiap investor yang membeli 2 saham baru akan berhak untuk 1 waran. Setiap 1 waran akan berhak untuk membeli 1 saham baru perseroan di harga Rp600.

Jangka waktu pelaksanaan waran seri I ini adalah mulai 6 bulan sejak tanggal pencatatan waran seri I di Bursa Efek Indonesia sampai dengan 1 hari bursa sebelum ulang tahun ke-5 pencatatan waran seri I tersebut. Bila terlaksana seluruhnya, saham hasil konversi waran ini akan setara 16,67% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan rentang harga pelaksanaan antara Rp150 – Rp167 per saham, maka perseroan berpotensi meraup dana segar antara Rp60 miliar hingga Rp66,8 miliar. Sementara itu, dari waran seri I maksimal akan mendapatkan Rp120 miliar.

Dana hasil IPO ini setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan seluruhnya untuk akuisisi tanah dan bangunan Sotis Residence Penjernihan. Sementara itu, dana hasil pelaksanaan waran seri I seluruhnya akan digunakan perseroan untuk meningkatkan penyertaan modal pada entitas anak untuk modal kerja.

Masa penawaran awal saham perseroan akan berakhir pada Jumat (23/11/2018) pekan ini. Selanjutnya, penetapan harga akan dilakukan pada Senin (26/11/2018) pekan depan. Pernyataan efektif dari OJK ditargetkan bisa diperoleh pada Jumat (30/11/2018) pekan depan.

Selanjutnya, perseroan akan melakukan penawaran umum pada 3-4 Desember 2018. Saham perseroan ditargetkan sudah bisa dicatatkan dan diperdagangkan di BEI pada Senin (10/12/2018). Perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.  

Adapun, setelah IPO, komposisi pemegang saham perseroan yakni Herman Herry Adranacus (komisaris) memiliki 26%, Stevano Rizki Adranacus (direktur) memiliki 24%, Vonny Kristiani 9,9%, Cindy Angelina Adranacus (komisaris) 0,1%, dan masyarakat 40%.

Total aset perseroan hingga 31 Mei 2018 adalah senilai Rp406 miliar, naik Rp47 miliar dibandingkan dengan akhir 2017 dan meningkat Rp313 miliar dibandingkan dengan akhir 2016. Dari total aset tersebut, ekuitas perseroan tercatat Rp278 miliar, sedangkan liabilitas Rp128 miliar.

Hingga Mei 2018, perseroan mencatatkan pendapatan Rp6,9 miliar, meningkat 45,5% dibandingkan periode yang sama 2017 Rp4,8 miliar. Perseroan masih membukukan rugi bersih senilai Rp10,6 miliar, meningkat pesat dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama 2017 yang hanya Rp1,7 miliar. Perseroan mengandalkan sumber pendapatan dari bisnis hotel dan spa.  

Tag : emiten, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top