Ditutup Menguat, Rupiah Kembali jadi yang Paling Perkasa di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona hijau dengan penguatan 53 poin atau 0,36% di level Rp14.612 per dolar AS,
Aprianto Cahyo Nugroho | 16 November 2018 18:00 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari keempat berturut-turut hari ini, Jumat (16/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona hijau dengan penguatan 53 poin atau 0,36% di level Rp14.612 per dolar AS,

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan penguatan 42 poin atau 0,29% di level Rp14.623 per dolar AS, setelah berakhir menguat 0,83% atau 122 poin di level Rp14.665 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/11).

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.557-Rp14.623 per dolar AS.

Rupiah kembali memimpin penguatan di saat mayoritas mata uang lain di Asia bergerak variatif. Menyusul rupiah, rupee India juga menguat 0,31%, sedangkan yuan China memimpin mata uang Asia yang melemah dengan depresiasi 0,14%.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya terpantau menguat 0,07% atau 0,066 poin ke level 96,993 poin pada pukul 17.20 WIB.

Indeks dolar mulai melanjutkan penguatannya saat dibuka dengan kenaikan 0,128 poin atau 0,13% di level 97,055, setelah pada perdagangan Kamis (15/11) berakhir naik 0,13% atau 0,124 poin di posisi 96,927.

Dilansir Reuters, dolar AS menguat karena  pound sterling melemah setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May berpegang teguh pada rencana Brexit meskipun ada pengunduran diri para menteri utama.

Pound sterling mengalami hari terburuknya terhadap euro sejak 2016 setelah menteri Brexit Dominic Raab mengundurkan diri, membuat investor khawatir Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa perjanjian perdagangan.

"Selama 'tidak ada kesepakatan', ada risiko depresiasi pound sterling yang makin meningkat," kata Ulrich Leuchtmannan, analis valas di Commerzbank, seperti dikutip Reuters..

Tanpa kesepakatan, Inggris akan keluar di bulan Maret dari perdagangan tanpa batas dengan Uni Eropa ke pengaturan bea cukai yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia untuk negara-negara eksternal, yang dapat menyebabkan kepanikan di pasar keuangan.

Pasar mata uang juga mengawasi ketegangan perdagangan AS-China karena pelaku pasar mencari tanda-tanda konkret dari upaya dua kekuatan ekonomi dunia mengurangi ketegangan perdagangan.

Laporan Financial Times mengatakan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer telah mengatakan kepada beberapa eksekutif industri bahwa tambahan tarif AS atas impor Cina ditunda. Namun juru bicara Wakil Perdagangan AS kemudian membantah laporan ini.

Sebagian besar analis memperkirakan dolar akan tetap didukung dengan baik dalam beberapa bulan mendatang berkat komitmen Federal Reserve untuk terus meningkatkan suku bunga secara bertahap.

Kenaikan suku bungan acuan keempat untuk tahun ini diperkirakan terjadi bulan depan, didukung oleh ekonomi yang kuat dan meningkatnya tekanan upah.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top