Data Inflasi AS Tak Sesuai Ekspektasi, Emas Berkilau

Harga emas kembali menghijau setelah dolar Amerika Serikat melemah karena data inflasi yang tidak sesuai ekspektasi sehingga membantu menahan percepatan laju pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS di tengah pergerakan terkait perang dagang dengan China.
Mutiara Nabila | 14 September 2018 13:45 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas kembali menghijau setelah dolar Amerika Serikat melemah karena data inflasi yang tidak sesuai ekspektasi sehingga membantu menahan percepatan laju pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS di tengah pergerakan terkait perang dagang dengan China.

Pada perdagangan Jumat (14/9/2019) siang, harga emas spot tercatat menghijau 4,02 poin atau 0,33% menjadi US$1.205,49 per troy ounce setelah sempat menyentuh titik tertingginya sejak 28 Agustus lalu di posisi US$1.212,65 per troy ounce pada perdagangan sebelumnya. 

Harga emas spot sudah mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,8% dan dalam jalurnya menuju kenaikan mingguan tiga kali berturut.

Sementara itu, harga emas Comex juga menguat 2,40 poin atau 0,20% menjadi US$1.210,60 per troy ounce dari posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Pimpinan Wing Fung Precious Peter Fung mengatakan bahwa negosiasi dagang akan menambah dorongan pada emas karena dolar AS akan melemah dan posisi jangka pendek akan bertambah.

"Saat ini pembelian emas fisik di Shanghai saja sudah bertambah sehingga melebarkan premium antara kedua harga patokan emas," ujar Fung, dikutip dari Reuters, Jumat (14/9).

Perang dagang yang sudah berlangsung selama beberapa bulan antara AS dan China telah membuat para investor memacu pembelian dolar AS sebagai aset karena yakin bahwa AS tidak akan terlalu merugi dalam perang dagang itu.

Permintaan dolar AS kemudian mulai berkurang pada pekan ini seiring dengan kemunculan kabar bahwa pihak Gedung Putih AS telah mengundang Pemerintah China untuk kembali melakukan diskusi dagang. China sudah memberikan respons dengan baik dan saat ini tengah membicarakan perincian untuk diskusi tersebut.

Indeks dolar AS di hadapan enam mata uang utama mencatatkan penurunan 0,3% ke posisi 94,49. Titik tersebut mendekati level terendah sejak 31 Juli di posisi 94,42.

Adapun, Indeks Harga Konsumen (CPI) AS juga bertumbuh di bawah ekspektasi pada Agustus dan laju inflasinya juga terlihat melambat, menunjukkan bahwa laju kenaikan suku bunga dari The Fed bisa melambat.

"Dengan data yang di bawah ekspektasi, para investor berpikir bahwa The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga lagi pada Desember, meskipun kenaikan pada September ini sudah pasti," kata Ji Ming, Kepala Analis di Shandong Gold Group.

Kenaikan suku bunga membuat emas tidak terlalu menarik di mata pemilik aset karena biaya untuk penyimpanan dan asuransinya menjadi semakin tinggi.

Harga emas telah mencatatkan penurunan hingga 12% sejak mencapai puncaknya pada April di tengah tensi perang dagang yang semakin menguat dan juga terbebani oleh kenaikan suku bunga AS. Hal itu membuat para investor menaruh posisi jangka pendek hingga menyentuh level rekor untuk emas Comex dan melakukan likudasi dana di bursa (ETF) emas sebanyak-banyaknya.

"Apabila harga emas bertahan di kisaran US$1.200-an per troy ounce, sentimen pasar akan tetap positif. Harga emas bahkan bisa terdorong ke US$1.250 per troy ounce," ungkap Hidetaka Namiki, Chief Executive Officer Bullionist Capital di Singapura.

Namiki menambahkan, dengan melihat pelemahan pada mata uang emerging market dan melihat ekuitas yang overbought, orang-orang akan bisa melihat pembalikan posisi emas menjadi semakin kuat.

Tag : Harga Emas Hari Ini
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top