Biaya Operasional Menggunung, Smelter Aluminium China Pangkas Produksi

Produsen aluminium China memangkas produksinya hingga 3% pada Agustus dibandingkan dengan jumlah pada bulan sebelumnya karena biaya penggunaan bahan mentah yang semakin tinggi membuat keuntungannya menyusut.
Mutiara Nabila | 14 September 2018 13:39 WIB
Aktivitas pekerja di pabrik aluminium milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen aluminium China memangkas produksinya hingga 3% pada Agustus dibandingkan dengan jumlah pada bulan sebelumnya karena biaya penggunaan bahan mentah yang semakin tinggi membuat keuntungannya menyusut.

Menurut Biro Statistik Nasional (NBS) China, negara produsen aluminium terbesar di dunia itu sudah mengolah sekitar 2,84 juta ton komoditas logam dasar itu pada sepanjang Agustus.

Jumlah tersebut turun dari jumlah Juli, yang menyamai level tertinggi bulanan yang pernah ada. Namun jumlah pada Agustus tercatat naik 7,8% dari periode yang sama 2017.

Victor You, Analis di CLSA mengatakan kabar pemangkasan produksi aluminium di pusat provinsi Henan, China, disebutnya sebagai pengganti bagi biaya operasional smelter aluminium yang sangat tinggi.

"Saat ini banyak smelter yang tidak memiliki integrasi dengan operasi alumina. Kalau sumber mereka asalnya dari luar, maka akan semakin menyulitkan mereka," ujar Victor dilansir dari Reuters, Jumat (14/9/2018).

Setiap harinya, China memproduksi sekitar 91.600 ton aluminium pada Agustus. Jumlah tersebut merupakan yang terendah sejak Mei.

Harga aluminium di Shanghai Futures Exchange tercatat naik 2,1% sepanjang Agusutus, tetapi harga spot untuk alumina, sebagai bahan dasar pembuat aluminium, mengalami kenaikan tajam hingga 10,8% di wilayah produsen utama China pada periode yang sama sehingga membebani pendaparan smelter.

Pasar alumina global terus mengetat sepanjang tahun ini, di antaranya karena penutupan pabrik Alunorte milik Norsk Hydro di Brasil, sanksi imternasional kepada produsen terbesar Rusia United Co. Rusal, dan serangan di pengilangan alumina Alcoa di Australia Barat.

Produsen alumina selama ini dapat meraup banyak keuntungan dari harga alumina yang meroket dan bisa membuat ekspor dengan jumlah besar, yang sangat jarang dilakukan, sehingga mengurangi kemampuan untuk memasok domestiknya.

Harga alumina di pusat China saat ini berada di posisi tertingginya sejak Desember tahun lalu. "Margin aluminium terus merosot tajam, sehingga tidak mengejutkan ketika terjadi penurunan harga," tambah Victor.

Data NBS menunjukkan bahwa sepanjang delapan bulan pertama tahun ini, China memproduksi sebanyak 22,21 juta ton aluminium, naik 3,5% secara year-on-year (yoy).

Produksi dari negara-negara anggota Group of 10 (G-10) untuk logam non-besi seperti tembaga, aluminium, timah hitam, seng, dan nikel, tercatat melambung 5,7% yoy menjadi 4,54 juta ton, tetapi turun 1,8% dari jumlah sebanyak 4,62 juta ton pada Juli.

Selain itu, produksi dari G-10 secara year-to-date (ytd) naik 3,8% menjadi 35,71 juta ton, di dalam jumlah tersebut termasuk produksi logam lain seperti timah, antimoni, merkuri, dan titanium.

Tag : aluminium
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top