Pemerintah Naikkan Target SBR004 Jadi Rp5 Triliun

Target emisi instrumen surat utang negara untuk investor ritel berbasis tabungan atau saving bond retail (SBR) seri SBR004 kembali ditingkatkan menjadi Rp5 triliun setelah permintaan dari investor ritel terus mencatatkan peningkatan.
Emanuel B. Caesario | 31 Agustus 2018 00:17 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Target emisi instrumen surat utang negara untuk investor ritel berbasis tabungan atau saving bond retail (SBR) seri SBR004 kembali ditingkatkan menjadi Rp5 triliun setelah permintaan dari investor ritel terus mencatatkan peningkatan.

Berdasarkan data penjualan SBR004 di laman Investree, realisasi penjualan SBR004 untuk investor ritel hingga Kamis (30/8) pukul 19.00 WIB sudah mencapai Rp3,29 triliun. Nilai ini meningkat Rp300 miliar dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Bersamaan dengan peningkatan tersebut, target penerbitan SBR004 yang semula ditetapkan sebesar Rp4 triliun, kini meningkat menjadi Rp5 triliun. Dengan demikian, capaian penjualan sejauh ini sudah 65,77% dari target terbaru.

Artinya, alokasi tersisa yang semula hanya Rp1 triliun, kini meningkat lagi menjadi menjadi Rp1,7 triliun sehingga memberi ruang bagi lebih banyak investor untuk turut berpartisipasi.

Schneider C.H. Siahaan, Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa target penerbitan instrumen ini memang masih terbuka.

“Target persisnya memang terbuka untuk dinaikkan, tergantung demand investor juga,” katanya, Kamis (30/8/2018).

Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa sistem penjualan instrumen SBR004 memang bersifat fleksibel. Artinya, besaran target kuota akan terus menyesuiakan diri secara otomatis berdasarkan kenaikan permintaan investor ritel.

Meski begitu, Loto enggan mengungkapkan kemungkinan untuk menaikkan target ini lebih jauh lagi atau nilai batas akhir yang ditetapkan pemerintah. Menurutnya, saat ini pemerintah masih akan mengkaji langkah kebijakan yang akan diambil selanjutnya.

Peningkatan permintaan investor sendiri sejatinya masih sangat terbuka, mengingat masa pemasaran instrumen baru berlangsung dua pekan dan masih terbuka 13 hari lagi hingga Kamis (13/9) mendatang.

Lagi pula, instrumen ini dipasarkan secara online sehingga pembelian dapat dilakukan dalam 24 jam. Pembelian minimal juga relatif terjangkau, yakni mulai dari Rp1 juta. Daya tarik insturmen ini sangat tinggi, sebab kuponnya mencapai 8,05% per tahun, bersifat mengambang dan dibayarkan setiap bulan.

Kupon ini masih bisa meningkat bila suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate naik lagi. Kupon ini jauh lebih menarik dibandingkan kupon deposito perbankan yang bahkan sebagian besar masih di bawah 6%. Pajaknya pun hanya 15%, lebih rendah dibandingkan pajak deposito yang sebesar 20%.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, sebelumnya mengatakan bahwa peluang permintaan investor atas instrumen ini berpotensi mencapai lebih dari Rp7 triliun, bila menimbang komposisinya yang menarik.

Selain itu, pada Jumat (7/9/2018) mendatang akan ada tambahan likuiditas di pasar dari instrumen ritel Sukuk Tabungan seri ST-001 senilai Rp2,52 triliun yang akan jatuh tempo. Besar kemungkinan investor dari instrumen ini akan melanjutkan investasinya pada SBR004 sebab kupon yang ditawarkan lebih menarik dibandingkan ST-001 yang sebesar 6,9% dan bersifat tetap.

“Saya kira pemerintah mungkin akan upsize target penerbitannya karena kondisi pasar sangat memungkinkan,” katanya.

 

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top