Rupiah Rebound. Ini Faktor Pendorongnya

Optimisme seputar intervensi lebih lanjut oleh Bank Indonesia sukses mempertahankan rebound rupiah hingga akhir perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018).
Renat Sofie Andriani | 27 Agustus 2018 18:22 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Optimisme seputar intervensi lebih lanjut oleh Bank Indonesia sukses mempertahankan rebound rupiah hingga akhir perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 29 poin atau 0,20% di level Rp14.620 per dolar AS, setelah mulai rebound saat dibuka terapresiasi 50 poin atau 0,34% di posisi 14.599. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.599 – Rp14.628 per dolar AS.

Meski penguatannya terkikis, mata uang Garuda mampu tetap membukukan rebound sekaligus mengakhiri pelemahan dua hari berturut-turut sebelumnya. Adapun pada perdagangan Jumat (24/8), rupiah berakhir melemah 11 poin atau 0,08% di posisi 14.649.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, tingkat pelemahan nilai tukar rupiah relatif terkendali sejak awal tahun yakni sekitar 7%. Pelemahan ini lanjutnya, hampir sama dengan pelemahan Filipina, Peso.

“Lebih rendah dari India 9% apalagi dibandingkan dengan South Africa hampir 13,7%, sementara Brazil sekitar 18,2%, Turki bahkan mencapai 40%," ungkapnya, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (24/8), seperti dilansir Bisnis.com.

Dia pun mengklaim BI sudah melakukan berbagai langkah stabilisasi. BI baru saja mengambil langkah stabilisasi dengan suku bunga yang dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,5% supaya terjadi capital inflow. 

"Puji syukur, inflow sudah mulai kembali, pembelian SBN khususnya long term investor sudah mulai masuk, kemudian eksportir menjual dolarnya," ungkapnya.

BI juga memastikan intervensi ganda di pasar spot dan pasar sekunder terus dilakukan untuk menjaga stabilitas. Dia pun mengkhususkan BI pasti melakukan intervensi di pasar SBN (sekunder).

Terakhir, stabilisasi nilai tukar dilakukan dengan memastikan ketersediaan valas terjaga. Terkait hal ini, BI sudah mempermurah swap rate BI dan swap hedging.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas juga menguat petang ini, dipimpin won Korea Selatan sebesar 0,45%, berikut ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,20%. Di sisi lain, renminbi China dan rupee India masing-masing terdepresiasi 0,21% dan 0,13% pada pukul 17.07 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama naik tipis 0,02% atau 0,021 poin ke level 95,167 pada pukul 16.57 WIB.

Indeks dolar sedikit beringsut ke zona hijau saat dibuka naik 0,03% atau 0,025 poin di level 95,171, setelah berakhir melemah 0,54% atau 0,520 poin di posisi 95,146 pada Jumat (24/8).

Won memimpin penguatan mayoritas mata uang di Asia setelah China menyatakan telah mengambil langkah untuk membatasi pelemahan yuan.

“Langkah China untuk mendukung yuan akan memberi kelegaan pada pasar serta mengisyaratkan bahwa PBOC tidak berencana masuk dalam perang mata uang berskala penuh,” ujar Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di Oanda Corp.

Komentar yang muncul dari Gubernur The Federal Reserve AS Jerome Powell tentang kenaikan suku bunga secara bertahap turut mendukung pergerakan mata uang di Asia.

Dalam pidatonya di simposium Jackson Hole pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan pendekatan bertahap untuk menaikkan suku bunga adalah yang terbaik untuk melindungi pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan di AS.

“Sepertinya dolar AS sedikit dikecewakan oleh pidato Powell di Jackson Hole saat dia tidak terdengar cukup hawkish untuk menggerakkan kenaikan suku bunga The Fed,” tambah Innes, seperti dikutip Bloomberg.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top