Suku Bunga The Fed Bakal Naik September, Tekanan Terhadap Rupiah Diyakini Berkurang

"Biasanya begitu. Sebelum naik bergejolak, dan ketika sudah dekat pada kenaikannya, akan berkurang tekanannya."
Hadijah Alaydrus | 24 Agustus 2018 15:14 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, MANADO - Bank sentral optimistis tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berkurang pada bulan depan [September], meskipun suku bunga Fed Fund Rate diperkirakan bakal naik.

Kepala Divisi Asesmen Makroekonomi Departmen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Fadjar Majardi melihat investor sudah mengambil ancang-ancang (price in) terhadap kenaikan suku bunga AS bulan depan.

"Biasanya begitu. Sebelum naik bergejolak, dan ketika sudah dekat pada kenaikannya, akan berkurang tekanannya," ujar Fadjar, Jumat (24/8). 

Ke depannya, respon BI tetap sejalan perkembangan di pasar global. Namun, itu tidak berarti BI akan naikkan suku bunga ketika Fed Fund Rate (FFR) meningkatkan suku bunga acuannya.

BI akan melakukan perhitungan suku bunga ke depan, a.l. dengan yield negara lain, termasuk AS.  Selain itu, BI akan memperhatikan defisit transaksi berjalan. "Jika butuh kenaikan suku bunga maka akan dinaikkan," ujarnya.

Satria Sambijantoro, Kepala Ekonom Bahana Sekuritas, mengatakan tantangan BI ke depannya bergantun kepada financial shock yang akan ditimbulkan oleh aksi the Fed.

"Sentral bank telah membangun tembok pertahanan dengan kenaikan suku bunga yang frontloading, tapi apakah ini cukup, tergantung pada gelombang yang datang," ujar Satria.

Pada Federal Open Market Committee (FOMC) atau Komite Pasar Terbuka Federal terakhir 31Juli-1 Agustus 2018, the Fed menegaskan kondisi ekonomi sudah memungkinkan untuk kenaikan suku bunga secara bertahap. 

Tag : bank indonesia, Kebijakan The Fed
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top