Pembicaraan Dagang dengan China Kian Dekat, Dolar AS Melemah

Dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan di hadapan sejumlah mata uang, terutama anggota negara G-10, tercatat sebagai yang terbesar dalam empat pekan karena adanya prospek untuk meredakan perang dagang dengan China. 
Mutiara Nabila | 19 Agustus 2018 20:55 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com , JAKARTA – Dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan di hadapan sejumlah mata uang, terutama anggota negara G-10, tercatat sebagai yang terbesar dalam empat pekan karena adanya prospek untuk meredakan perang dagang dengan China. 

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/8), indeks dolar AS yang menjadi pengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama dunia, tercatat mengalami penurunan 0,54% dan membawanya ke posisi 96,10 poin, dalam jalurnya menuju penurunan mingguan terburuk sejak bulan lalu.

Pelemahan greenback semakin parah setelah Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa negositaor China dan AS tengah membuka jalan untuk kembali melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang dagang, dan berujung pada pertemuan multilateral antara Presiden AS Donal Trump dan Presiden China Xi Jinping pada November mendatang.

Pada penutupan perdangan Jumat (17/8), euro tercatat ditutup melemah tipis 0,0048 poin atau 0,54% di hadapan dolar AS, berada pada posisi 0,87 euro per dolar AS dan menguat 4,94% secara year-to-date (ytd). Meski melemah, euro masih menuju kenaikan harian untuk tiga hari berturut, dan akan menjadi penguatan terpanjang dalam sebulan terakhir.

Selanjutnya dolar Kanada (CAD) tercatat menguat 0,0095 poin atau 0,72% menjadi CA$1,30 per dolar AS, selama tahun berjalan, CAD melemah 3,75% di hadapan dolar AS. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dalam tiga pekan belakangan.

Dolar Austraila (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD) tercatat melemah di hadapan dolar AS dengan AUD turun 0,009 poin atau 0,71% menjadi AU$1,3 per dolar AS, selama tahun berjalan tercatat menguat 6,74%. Adapun, NZD melemah 0,01 poin atau 0,77% menjadi NZ$1,50 per dolar AS dan naik 6,9% ytd terhadap dolar AS.

Dalam pasar negara berkembang, lira Turki kembali melemah setelah menguat selama empat hari dan menjadi mata uang dengan kinerja dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya. Meskipun demikian, lira Turki masih ebrada dalam jalurnya untuk mencatatkan penguatan mingguan pertama kalinya sejak 20 Juli lalu.

Lira tercatat melemah di hadapan dolar AS sebanyak 0,18 poin atau 3,05% menjadi 6,01 lira per dolar AS, secara ytd, lira tercatat turun 36,88% di hadapan dolar AS. Trump mengatakan bahwa Turki bukanlah kawan AS karena terus melakukan pengawasan ketat pada pendeta asal Amerika yang ditahan di Turki.

Sementara itu, peso Meksiko tercatat menguat 0,09 poin atau 0,49% menjadi 18,89 peso per dolar AS setelah muncul laporan bahwa AS dan Meksiko telah mengatasi perselisihan produk peranian di bawah naungan Nafta.

Di Asia, mata uang rupee India, ringgit Malaysia, dan rupiah Indonesia menjadi mata uang yang mengalami pelemahan meskipun dolar AS melemah. Rupee tercatat melemah 0,265 poin atau 0,37% menjadi 70,15 rupee per dolar AS dan turun 8,9% selama tahun berjalan.

Adapun, rupiah menempati posisi kedua di bawah India sebagai mata uang yang melemah pada pentupan perdagangan Kamis (16/8) dengan penurunan sebanyak 17 poin atau 0,11% menjadi Rp14.593 per dolar AS dan turun 7,11% secara ytd. Pelemahan tersebut juga disebabkan oleh libur Hari Kemerdekaan Ke-73 pada Jumat (17/8), sehingga perdagangan tidak berlangsung.

Mata uang ringgi juga melemah 0,0028 poin atau 0,06% menjadi 4,10 ringgit per dolar AS dan turun 1,4% selama tahun berjalan. Selain ketiga mata uang tersebut, mata uang Asia lainnya mengalami penguatan di hadapan dolar AS.

Tag : dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top