Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rig di AS Berkurang, Harga Minyak Bertahan di Posisi US$68 Per Barel

Harga minyak bertahan di level US$68 per barel karena sejumlah investor terus memperhatikan dampak dari meningkatnya ketegangan perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia Amerika Serikat dan China serta penurunan jumlah rig minyak Amerika.
Harga minyak naik/Ilustrasi
Harga minyak naik/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bertahan di level US$68 per barel karena sejumlah investor terus memperhatikan dampak dari meningkatnya ketegangan perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia Amerika Serikat dan China serta penurunan jumlah rig minyak Amerika.

Pada perdagangan Senin (23/7/2018), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkerek tipis 0,27 poin atau 0,47% menjadi US$69,53 per barel dan naik 13,42% selama tahun berjalan. Adapun, harga minyak Brent Futures terangkat 0,59 poin atau 0,81% menjadi US$73,66 per barel dan naik 10,15% secara year-to-date (ytd).

Tensi perang dagang dinilai telah mengancam pertumbuhan ekonomi global karena kedua negara yang mendorong kekuatan ekonomi dunia tak lagi sejalan.

Sementara itu, sejumlah rig minyak AS mengalami penurunan terbanyak sejak Maret lalu, diiringi dengan pengumuman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.

Perkembangan konflik dagang antara AS dan China menyebabkan harga minyak merosot dari level tertingginya pada akhir Juni lalu dan memicu volatilitas harga, yang sempat membuat harga minyak melambung tinggi ke level tertingginya sejak Februari.

Mata uang yuan China juga terkerek pada perdagangan Senin (23/7) setelah Trump berkicau lewat akun twitternya sehingga menekan outlook  greenback, sementara itu, pasar masih terus berfokus pada kemungkinan AS untuk menahan produksi minyak Iran.

“Apa yang terjadi pada konflik perang dagang saat ini antara AS dengan China akan menjadi dorongan yang mendominasi penyebab volatilitas harga-harga komoditas dalam jangka pendek. Kita bisa melihat posisi investor dan pergerakan nilai mata uang terus bergejolak,” ungkap David Hynes, Senior Ahli Strategi di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, dikutip dari Bloomberg, Senin (23/7/2018).

Adapun, data Baker Hughes menunjukkan bahwa di AS, jumlah rig yang beroperasi menurun lima unit menjadi 858 unit pada pekan yang berakhir 20 Juli, penurunan terbesar dalam empat bulan terakhir. Kemerosotan jumlah rig minyak di AS muncul setelah data Pemerintah AS menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah AS yang di luar ekspektasi pada pekan yang berakhir 13 Juli.

Barclays Plc melaporkan bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) diperkirakan akan menambah produksinya hingga 200.000 barel per hari sepanjang kuartal IV/2018 dari jumlah pada kuartal II/2018, meskipun ada gangguan pasokan dari Iran dan Venezuela.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper