Lawan Depresiasi Rupiah, Gerakan Cinta Rupiah Perlu Dikampanyekan Lagi

Bisnis.com, JAKARTA Ekonom menilai pentingnya gerakan cinta rupiah dalam menghadapi gejolak nilai tukar yang dipicu perkembangan global saat ini.
Ipak Ayu H Nurcaya | 11 Juli 2018 21:40 WIB
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai pentingnya gerakan cinta rupiah dalam menghadapi gejolak nilai tukar yang dipicu perkembangan global saat ini. Dengan gerakan tersebut, otoritas moneter tak perlu harus melakukan pengetatan moneter dan intervensi di pasar valas.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri mengatakan, terlepas dari sejarah dan pembuat program gerakan cinta rupiah, tetapi saat ini Indonesia membutuhkan satu amunisi untuk meningkatkan penggunaan rupiah.

Dirinya menilai, langkah ini juga idealnya dimulai dari pejabat negara yang memberi contoh untuk tidak senang mengoleksi dolar.

"Dari data kekayaan pejabat negara banyak yang masih simpan. Presiden sebenarnya bisa mulai cetuskan program peningkatan penggunaan rupiah," katanya, Rabu (11/7/2018).

Faisal menilai bahkan kondisi ternak dolar yang masih menjadi tren ini diperparah dengan berbagai kegiatan di Indonesia termasuk korupsi menggunakan dolar.

Dirinya mengemukakan banyak hal yang memang bisa dilakukan untuk menjaga stabilisasi rupiah. Siapapun tidak bisa hanya meminta Bank Indonesia berkerja keras sendiri.

"Maraknya penggunaan dolar di dalam negeri itu masalah besar. Pasalnya BI tidak bisa terus menerus menggunakan cadangan devisa karena akan memberikan sinyal yang negatif,” ujar Faisal.

Selain itu, Faisal mengatakan Indonesia tidak bisa terus menerus tergantung pada arus modal asing agar tidak terlalu tertekan dengan pelemahan rupiah.

Sementara dalam transaki berjalan, lanjutnya, harus selalu dijaga dalam kondisi surplus. Untuk itu, ekspor harus ditingkatkan dan impor mulai ditekan.

Sayangnya, kapasitas Indonesia dalam meningkatkan ekspor masih sangat minim. Sebab, mayoritas prioritas dunia usaha di Indonesia sebagian besar untuk pasar domestik.

Faisal pun berharap perdagangan Indonesia dapat dikembangkan ke pasar nontradisional seperti Afrika. Caranya, dengan melakukan barter produk yang saling dibutuhkan dua negara.

"Cara ini belum pernah dilakukan, padahal bisa. Pemerintah juga terkadang asal bicara tanpa tahu pasti kegiatan dunia usaha. Pastinya, pengetatan hingga subtitusi impor itu mustahil dilakukan," tutur Faisal.

Sisi lain, langkah jangka pendek juga yang bisa dilakukan yakni mendorong sektor pariwisata dengan secara kongkrit membuka dan memperbanyak penerbangan langsung dari kawasan wisata ke berbagai negara.

Namun langkah ini, lanjut Faisal, tidak boleh diiringi dengan maraknya pameran travel wisata murah ke luar negeri. Sebab, malah akan menjadi hal kontraproduktif dengan pengembangan pariwisata domestik.

“Jangan sampai kita minta banyak turis asing masuk tapi wisatawan kita malah ke luar negeri,” tutur Faisal.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top