Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Persediaan Global Meningkat, Harga Baja Tertekan

Harga baja mengalami pelemahan seiring dengan masih menumpuknya persediaan global menyusul laporan administrasi Trump terkait rencana pengenaan tarif bea masuk sebesar 25%.
Ilustrasi./JIBI
Ilustrasi./JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga baja mengalami pelemahan seiring dengan masih menumpuknya persediaan global menyusul laporan administrasi Trump terkait rencana pengenaan tarif bea masuk sebesar 25%.

Harga baja di Shanghai Futures Exchange anjlok 7,8% pada minggu ini, sebuah kinerja terburuk dalam waktu sekitar 1 tahun. Pada perdagangan Jumat (9/3), harga bergerak melemah hingga 146 poin atau 3,79% menjadi 3.707 yuan (US$585,34) per ton. Secara year to date (ytd), harga melemah hampir 3%.

Dilansir dari Bloomberg, baja mengalami pekan yang terburuk dalam setahun akibat persediaan yang masih menumpuk di samping tekanan tarif Trump yang menambah kesuraman. Namun, sebagian besar analis di China mengaitkan penurunan harga dengan tekanan akibat persediaan yang meningkat, bukan tarif Trump.

“Permintaan belum pulih seperti yang diperkirakan pasar, menyebabkan stok baja naik dengan cepat,” kata Zhao Xiaobo, analis di pialang China Sinosteel Futures Co.

“Kekhawatiran akan tingginya persediaan akan terus menggangu pasar,” lanjutnya.

Menurut Shanghai Steelhome E—Commerce Co, stok mencapai lebih dari tiga kali lipat sejak Desember menjadi 9,64 juta ton, tertinggi sejak 2013. Pembatasan output musim dingin yang kemungkinan akan berakhir pada pekan depan mendorong produsen untuk menaikkan tarif operasional sehingga menambah kondisi bearish.

Asosiasi Besi dan Baja China khawatir terhadap dampak perdagangan baja global dan ekonomi dunia dan meminta kepada pemerintah Xi Jinping untuk mengadopsi tindakan penanggulangan terhadap produk baja AS.

Dalam kesempatan lain, Pemerintah Australia melalui Menteri Perdagangan Australia Steve Ciobo mengatakan bahwa pemerintahannya membuat pernyataan yang sangat konkrit terhadap administrasi Trump untuk bisa membebaskan negara tersebut dari tarif yang tinggi.

Adapun, Jepang juga mengatakan akan terus berbicara dengan AS tentang 'pengecualian' negara dalam penetapan tarif tersebut. “Perlindungan tarif untuk pembuat baja AS adalah perkembangan negatif bagi harga baja,” kata BMI Research dalam sebuah laporan.

“Kami memperkirakan kuartal I/2018 harga akan meninggi pada tahun ini,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper