Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Anjlok, Khawatir Efek Tarif Impor Trump

Harga minyak mentah dunia turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (7/3/2018), seiring dengan pelemahan pasar ekuitas dan penguatan dolar AS serta menyusul laporan pemerintah AS yang menunjukkan ekspansi cadangan dan produksi minyak mentah.
Ilustrasi/Reuters
Ilustrasi/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (7/3/2018), seiring dengan pelemahan pasar ekuitas dan penguatan dolar AS serta menyusul laporan pemerintah AS yang menunjukkan ekspansi cadangan dan produksi minyak mentah.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 berakhir anjlok US$1,45 di US$61,15 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 27% di atas rata-rata 100 hari.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Mei 2018 juga ditutup anjlok US$1,45 di US$64,34 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak acuan global ini diperdagangkan US$3,32 premium terhadap WTI pengiriman Mei.

Dilansir Bloomberg, pelemahan di pasar ekuitas, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran bahwa rencana pemberlakuan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump akan memicu perang dagang telah menekan kekuatan minyak mentah.

Pada saat yang sama, Energy Information Administration (EIA) melaporkan jumlah persediaan minyak AS meningkat sebesar 2,41 juta barel pekan lalu, sedangkan tingkat produksi melonjak ke rekor tertinggi terbarunya.

“Ada kekhawatiran bahwa jika tarif diberlakukan dan kita memasuki perang dagang, maka akan menurunkan pertumbuhan global secara keseluruhan,” ujar Craig Bethune, manajer portofolio senior di Manulife Asset Management, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%.

Laporan EIA juga menunjukkan pasokan bensin turun untuk pertama kalinya sejak Januari dan persediaan minyak sulingan turun untuk pekan keempat berturut-turut.

Di sisi lain, stok di pusat penyimpanan utama AS di Cushing, Oklahoma turun pada pekan kesebelas ke level terendah sejak 2014. Adapun persediaan minyak mentah naik 2,41 juta barel, lebih rendah dari ekspektasi.

“Jumlah kenaikan lebih kecil dari 5,66 juta barel yang telah dilaporkan API sebelumnya, yang mungkin sedikit menakutkan bagi pasar,” kata Nick Holmes, seorang analis di Tortoise, Leawood, Kansas.

“Namun, ada banyak ketidakpastian di pasar dengan tarif dan isu tentang NAFTA. Pasar tidak menyukai ketidakpastian, terutama hal-hal yang berpotensi menghambat pertumbuhan PDB dan permintaan minyak mentah secara keseluruhan,” tambah Holmes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper