Ini yang Terjadi Pada Pasar Asia Pascatestimoni Powell

Aksi jual pada pasar saham yang dipicu komentar hawkish Gubernur The Federal Reserve menunjukkan tanda-tanda mereda pada perdagangan di Asia pagi ini, Rabu (28/2/2018), saat investor mencermati arah kenaikan suku bunga AS.
Renat Sofie Andriani | 28 Februari 2018 09:00 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi jual pada pasar saham yang dipicu komentar hawkish Gubernur The Federal Reserve menunjukkan tanda-tanda mereda pada perdagangan di Asia pagi ini, Rabu (28/2/2018), saat investor mencermati arah kenaikan suku bunga AS.

Indeks Topix turun kurang dari 0,1% dan Nikkei 225 Stock Average Jepang turun hanya 0,2% pada pukul 9.42 pagi waktu Tokyo (pukul 07.42 WIB). Adapun indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,3% dan indeks Kospi Korea Selatan berbalik arah.

Sementara itu, pergerakan indikator indeks S&P 500 dikabarkan naik 0,2% setelah berakhir melorot 1,27% atau 35,32 poin di 2.744,28 pada perdagangan Selasa (27/2).

Dilansir Bloomberg, penurunan pada sejumlah indeks saham Asia cenderung lunak seiring dengan naiknya indikator indeks AS tersebut. Sementara itu, pergerakan dolar AS bergerak stabil setelah menguat 0,6% dan yen memperpanjang pelemahannya.

Pada perdagangan Selasa, bursa AS melemah akibat terbebani pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang membangkitkan kembali kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga lebih dari yang diperkirakan tahun ini.

“Jika mereka menaikkannya sebanyak empat kali, kami pikir itu akan dilakukan karena alasan yang tepat - yaitu pertumbuhan yang baik, inflasi terkendali,” kata Jim McDonald, chief investment strategist Northern Trust Corp., kepada Bloomberg TV. “Itu tidak akan menjadi hal yang buruk untuk pengambilan risiko.”

Dalam penyampaian testimoninya di depan Parlemen AS pada Selasa (27/2) waktu setempat, Powell mengharapkan ekonomi yang kuat dalam dua tahun ke depan dan bahwa prospeknya untuk pertumbuhan telah menguat sejak Desember.

Imbal hasil obligasi melonjak dalam beberapa bulan terakhir di tengah spekulasi bahwa kebijakan moneter AS akan diperketat dengan laju yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Bagi investor ekuitas, hal ini memberikan tekanan, setelah kebijakan longgar oleh bank sentral global selama bertahun-tahun yang membantu mendorong valuasi yang terlihat kurang menarik bagi beberapa pelaku di lingkungan dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Komentar hawkish Powell pun mengejutkan para pedagang di bursa Wall Street, dengan indeks S&P 500 mencatatkan penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan kemarin.

Pasar kemudian akan mencermati rilis data PMI manufaktur China untuk Februari. Data PMI resmi dan Caixin China yang masing-masing akan dirilis hari ini dan Kamis diperkirakan menunjukkan momentum pertumbuhan sedikit melambat pada Februari.

Tag : bursa asia, Kebijakan The Fed
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top