Ini Alasan China Menekan Impor Kedelai dari AS

Impor kedelai China yang didatangkan dari Amerika Serikat mengalami penurunan pada periode Januari 2018 di tengah menegangnya hubungan perdagangan antara kedua negara ekonomi terbesar dunia itu.
Eva Rianti | 26 Februari 2018 13:29 WIB
Kedelai - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Impor kedelai China yang didatangkan dari Amerika Serikat mengalami penurunan pada periode Januari 2018 di tengah menegangnya hubungan perdagangan antara kedua negara ekonomi terbesar dunia itu.

Berdasarkan data bea cukai China yang dirilis pada Sabtu (24/2/2018), impor kedelai China dari Amerika Serikat pada Januari 2018 turun 14% dari bulan yang sama pada tahun lalu menjadi 5,82 juta ton, atau setara dengan 67% dari total impor.

“Penurunan tersebut menggarisbawahi kekhawatiran tentang pelemahan penjualan AS ke pembeli kedelai teratas di dunia karena penurunan tingkat protein pada kedelai AS yang memungkinkan Brasil untuk memikat pelanggan dengan tanaman dengan protein yang lebih tinggi,” papar bea cukai, seperti dilansir dari Reuters.

Brasil yang merupakan produsen kedelai terbesar kedua di dunia setelah AS saat ini tengah berupaya meningkatkan ekspornya, mengalahkan AS. Berdasarkan data World Bank, pada musim 2017/2018 Brasil diperkirakan akan mengekspor kedelai sebanyak 64 juta ton, sementara AS lebih rendah yaitu sebesar 61,2 juta ton.

Kondisi penurunan impor China dari AS terjadi di tengah perang perdagangan antara keduanya, dua ekonomi teratas dunia, setelah Washington menjatuhkan tarif impor panel surya dan mesin cuci awal tahun ini, di samping ketegangan atas rencana pembatasan impor logam aluminium dan baja dari China ke AS yang akan diputuskan pada pertengahan April mendatang.

Dalam upaya yang dianggap sebagai 'pembalasan' atas langkah tersebut, Pemerintah Beijing pada awal bulan ini meluncurkan penyelidikan terhadap impor sorgum AS. China yang merupakan pengimpor sorgum terbesar di dunia mengimpor 5,6 juta ton sorgum AS pada Januari.

Hangatnya situasi perdagangan AS dan China dimanfaatkan oleh Brasil, terutama pada produk komoditas perkebunan. Sebagai gambaran, Brasil tercatat telah menjual 2,07 juta ton kacang ke China pada Januari, naik 720% dari tahun lalu dan setara dengan hampir seperempat dari total. Negara Amerika Selatan hanya menyumbang 3,3% dari total Januari 2017.

Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah Xi Jinping dapat mempertimbangkan langkah-langkah lain yang dapat melukai penjualan kedelai dan tanaman lainnya. Ancaman—ancaman impor potensial dari penyelidikan pemerintah China diperkirakan akan secara substansial mengurangi permintaan panen AS mendatang.

Pangsa ekspor kedelai ke China tumbuh terbesar pada 2017 dan diperkirakan akan meningkat lagi tahun ini, dibantu oleh harga yang kompetitif serta kandungan protein tinggi dari kacangnya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/2/2018), harga kedelai di bursa Chicago Broad of Trade (CBOT) mencapai level US$1.047,50 per bushel, tertinggi sejak awal Maret 2017.

Sumber : Reuters

Tag : kedelai
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top