Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

2017, Laba Bersih BUMN Semen Rontok

Emiten semen pelat merah masih memasang target pertumbuhan optimistis untuk pertumbuhan laba bersih tahun ini meski laba bersih sepanjang 2017 terkoreksi akibat kondisi kelebihan pasokan yang melanda industri tersebut.
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hendi Prio Santoso, mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (23/1)./JIBI-Dwi Prasetya
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hendi Prio Santoso, mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (23/1)./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten semen pelat merah masih memasang target pertumbuhan optimistis untuk pertumbuhan laba bersih tahun ini meski laba bersih sepanjang 2017 terkoreksi akibat kondisi kelebihan pasokan yang melanda industri tersebut.

Direktur Utama PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa berdasarkan progonosis atau laporan keuangan yang belum diaudit, laba bersih perseroan terkoreksi dengan kisaran 30%-40%. Tercatat, laba bersih pada 2017 senilai Rp146,59 miliar lebih kecil dibandingkan dengan pencapaian 2016 sebesar Rp259,09 miliar.

“Prognosis tahun ini memang laba bersih kita turun tetapi koreksi paling sedikit dibandingkan dengan perusahaan semen lainnya,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Rahmad menjelaskan penyebab tergerusnya laba bersih perseroan akibat kenaikan harga batu bara yang menambah beban biaya produksi. Selain itu, terjadi penurunan harga jual semen di dalam negeri. Kendati demikian, pihaknya menargetkan laba bersih perusahaan dapat tumbuh pada 2018. Target yang dipasang untuk laba bersih pada tahun ini yakni Rp210 miliar.

“Pada 2018, Semen Baturaja juga menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 56% karena telah beroperasinya Pabrik Baturaja II secara penuh,” imbuhnya.

Dia menambahkan pada tahun ini perusahaan bakal menjalan sinergi yang berujung kepada efisiensi. Selain itu, pihaknya bakal mencari sumber batu bara yang lebih murah untuk menekan biaya produksi.

Nilai penjualan bersih emiten berkode saham SMBR tersebut hanya naik tipis sepanjang tahun lalu. Tercatat, nilai penjualan pada 2017 sebesar Rp1,53 triliun sedangkan pada 2016 sebesar Rp1,52 triliun.

Akan tetapi, secara keseluruhan volume penjualan semen dalam lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9%. Sementara itu, pertumbuhan permintaan semen nasional hanya 3%.

Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hendi Prio Santoso mengatakan bahwa laba bersih perseroan pada 2017 bakal lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya. Menurutnya, laba bersih akan terkoreksi mencapai 50% untuk periode 2017.

Kendati demikian, dia belum mau mengungkapkan berapa besaran laba bersih perusahaan pada tahun lalu. Pasalnya, saat ini laporan keuangan masih berada dalam tahap audit.

Namun, Hendi menyebut aspek penekan kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2017 yakni aspek persaingan yang membuat harga jual tertekan. Pada saat bersamaan, harga batu bara yang berkontribusi 30%-40% dalam biaya operasional juga mengalami kenaikan hingga 30%.

“Tidak hanya itu yang naik tetapi biaya pengangkutan dan pemasaran juga naik,” imbuhnya.

Tahun ini, dia menyebut emiten berkode saham SMGR itu bakal mengontrol faktor-faktor seperti sumber daya dan biaya. Hal tersebut sebagai langkah efisiensi yang dilakukan oleh perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal III/2017, kontribusi pendapatan segmen usaha semen terhadap total pendapatan mengalami penurunan dari 2015 ke 2016. Tercatat, kontribusi pada 2015 sebesar 96,33% tergerus menjadi 92,32% pada 2016. Penurunan kontribusi dari pendapatan segmen usaha semen disebabkan karena penurunan harga jual rata-rata semen pada 2016.

Penjualan semen domestik SMGR juga mengalami penurunan pada 2016 sebesar 10,1% dengan total 2,18 juta ton. Pada 2015, penjualan tercatat sebanyak 2,42 juta ton.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Edwin Hidayat Abdullah menilai kinerja perusahaan semen pelat merah pada 2017 secara volume masih sangat baik. Akan tetapi, margin yang dibukukan tergerus akibat persaingan di industri.

Cost naik tapi harga tidak bisa naik karena persaingan jadi akibatnya mau tidak mau marginnya tergerus,” paparnya.

Edwin menjelaskan bahwa struktur biaya terbesar untuk dua BUMN semen tersebut yakni bahan baku dan logistik. Kenaikan harga batu bara sebesar 30% dan biaya distribusi logistik menambah beban perseroan.

Akan tetapi, pihaknya optimis laba bersih BUMN semen pada 2018 akan mengalami pertumbuhan. Dengan catatan, dilakukan perbaikan daya saing dengan mempertajam pemasaran dan mengefisiensikan pengeluaran perusahaan.

“Banyak lakukan efisiensi karena kalau lihat kompetisi seperti ini dengan pasar oversupply tidak bisa naik harga jadi caranya turunin cost dengan efisiensi ke dalam dan agresif,” paparnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper