Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kino Indonesia (KINO) Optimistis Penjualan Produk Minuman Naik Dua Digit

Faktor pelemahan daya beli menjadi penyebab melambatnya bisnis minuman kemasan. Kondisi itu pun sontak membuat pendapatan PT Kino Indonesia Tbk. dari segmen minuman (beverages) stagnan.
Direktur Utama PT Kino Indonesia Tbk, Harry Sanusi (kiri), berbincang dengan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia Hamdi Hassyarbaini, di sela-sela pencatatan saham perdana di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Jumat (11/12). /bisnis.com
Direktur Utama PT Kino Indonesia Tbk, Harry Sanusi (kiri), berbincang dengan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia Hamdi Hassyarbaini, di sela-sela pencatatan saham perdana di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Jumat (11/12). /bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Faktor pelemahan daya beli menjadi penyebab melambatnya bisnis minuman kemasan. Kondisi itu pun sontak membuat pendapatan PT Kino Indonesia Tbk. dari segmen minuman (beverages) stagnan.

Direktur Utama Kino Indonesia Harry Sanusi mengatakan, kondisi makro ekonomi pada tahun lalu cukup berat, sebab harga komoditas belum cukup pulih, sehingga diperlukan cara untuk meningkatkan daya beli dan kepercayaan konsumen.

“Penjualan dalam kemasan tahun lalu flat,” ungkapnya pada Bisnis.com, Senin (22/1/2018).

Namun, pada tahun ini, emiten bersandi saham KINO optimistis akan adanya pertumbuhan penjualan hingga dua digit. Momentum pemilihan kepala daerah serentak, kata Harry, berpotensi mengerek bisnis air minum dalam kemasan perseroan.

Tak hanya momentum Pilkada, optimisme pun muncul KINO saat pemulihan harga komoditas mulai terlihat pada akhir tahun lalu. Harry menilai, harga komoditas yang terus menanjak akan menaikkan level kepercayaan dan daya beli konsumen.

Di segmen minuman kemasan, emiten sektor consumer goods ini memiliki lima merek utama, yakni Larutan Cap Kaki Tiga, Cap Panda, Chocofun, Panther, dan Segar Sari.

Hingga September 2017, nilai penjualan minuman KINO mencapai Rp923,52 miliar, atau naik tipis dari posisi Rp921,68 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya mengatakan, masyarakat lebih banyak menyimpan uang, dibandingkan dengan menghabisan untuk konsumsi.

Selain itu, dia menambahkan, kompetisi bisnis air minum dalam kemasan juga meningkat, seiring bertambahnya pemain di segmen AMDK juga semakin banyak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper