PCAR Incar Pembukuan Laba

Emiten anyar PT Prima Cakrawala Abadi Tbk., (PCAR) mengincar pembukuan laba bersih pada akhir 2017 setelah sebelumnya mengalami kerugian.
Hafiyyan | 29 Desember 2017 13:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Emiten anyar PT Prima Cakrawala Abadi Tbk., (PCAR) mengincar pembukuan laba bersih pada akhir 2017 setelah sebelumnya mengalami kerugian.

Pada Jumat (29/12/2017), Prima Cakrawala Abadi melakukan pencatatan saham perdana di BEI sebagai emiten ke-37 pada tahun ini, dan berada di urutan ke-567 secara keseluruhan. Harga penawaran saham saat IPO ialah Rp150.

Masa penawaran saham emiten pengolahan rajungan ini dimulai pada tanggal 22 Desember 2017. Jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 466,67 juta lembar atau 40% dari modal ditempatkan dan disetor.

Direktur Utama PCAR Raditya Wardhana menyampaikan, perseroan meraih dana hasil IPO sebesr Rp70 miliar. Permintaan saham mengalami oversubscribed 2,11x.

Sekitar 28,10% dana hasil IPO atau Rp21 miliar akan digunakan untuk belanja modal perseroan. Rinciannya 40% untuk pembelian peralatan untuk efisiensi biaya produksi, 20% renovasi pabrik, dan 40% untuk pembangunan fasilitas.

Pembangunan fasilitas baru berupa tepat pengukusan dan pengolahan rajungan bertujuan meningkatkan produksi sekaligus penghematan biaya logistik. Lokasinya terletak di Rembang, Tuban, Cirebon, Lampung, dan Belitung.

Adapun 71,90% dana IPO atau sekitar Rp49 miliar digunakan sebagai modal kerja perusahaan. Alokasi 80% dipakai untuk pembelian bahan baku, pembayaran utang, beban pemasaran, dll.

Selanjutnya sekitar 20% dari Rp49 miliar dialokasikan untuk uang muka pembelian daging rajungan dari nelayan. PCAR juga berencana membantu pengadaan 70 kapal agar menjaga ketersediaan bahan baku dan menurunkan harga pokok produk.

"Setelah melakukan IPO, kami yakin perusahaan akan berbalik mendapatkan keuntungan seiring dengan peningkatan penjualan," ujarnya di Gedung BEI, Jumat (29/12/2017).

Pendapatan perseroan per Agustus 2017 mencapai Rp95,49 miliar, atau meningkat 43,7% sepanjang tahun berjalan. Namun, PCAR masih membukukan rugi bersih Rp3,55 miliar.

Sampai akhir 2017, sambung Raditya, perusahaan membidik penjualan Rp140 miliar-Rp150 miliar dari pemasaran 30 kontainer rajungan. Peningkatan ini membuat PCAR dapat berbalik membukukan laba bersih Rp1 miliar.

Pada tahun depan, manajemen mengincar penjualan Rp406 mliar dari pemasaran 60 kontainer rajungan. Dengan estimasi tersebut, perseroan dapat mengantongi laba bersih Rp11 miliar.

Pertumbuhan penjualan terjadi seiring dengan perluasan pasar ekspor ke China, Jepang, dan Singapura. Selama ini, PCAR baru melakukan pengapalan ke Amerika Serikat yang menopang 97% total pemasaran perusahaan.

"Penjualan bisa naik signifikan karena yang kita butuhkan sebetulnya modal kerja untuk perputaran. Semakin banyak modal kerja, penjualan kita akan meningkat," paparnya.

Salah satu permasalahan kesulitan modal kerja disebabkan pembayaran pembelian bahan baku ke kelayan dilakukan secara tunai. Padahal, PCAR mendapatkan pemasukan dari penjualannya secara bertahap.

Penambahan modal kerja dapat meningkatkan utilitas pabrik pengolahan rajungan dari saat ini sekitar 20%. Peningkatan produksi juga dapat menekan fixed cost hingga 50%.

Faktor lain yang mendorong PCAR dapat mengantongi laba bersih setelah IPO ialah pelunasan utang perbankan sebesar Rp28 miliar. Utang itu sudah dilunasi para pemegang saham.

Tag : emiten
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top