BHP Billiton Cabut dari World Coal Association & Kamar Dagang AS, Ini Alasannya

Perusahaan pertambangan global BHP Billiton mengatakan pada Selasa (19/12/2017) bahwa pihaknya mengambil keputusan awal untuk meninggalkan asosiasi batu bara dunia/World Coal Association (WCA). Eksportir batu bara terbesar dunia itu juga dikabarkan akan menarik diri dari kamar dagang AS.
Eva Rianti | 20 Desember 2017 09:08 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan pertambangan global BHP Billiton mengatakan pada Selasa (19/12/2017) bahwa pihaknya mengambil keputusan awal untuk meninggalkan asosiasi batu bara dunia/ World Coal Association (WCA). Eksportir batu bara terbesar dunia itu juga dikabarkan akan menarik diri dari kamar dagang AS.

Dilansir dari Reuters, BHP mendapat tekanan dari kelompok hijau Australia pada awal tahun ini untuk meninggalkan asosiasi industri yang kebijakannya tidak sesuai dengan dukungan perusahaan terhadap kesepakatan Iklim Paris yang telah disepakati pada 2015 lalu.

“Kebijakan asosiasi tersebut bertentangan dengan pandangan kami bahwa pasar energi seharusnya bersifat bahan bakar dan teknologi yang netral dan mempertimbangkan biaya serta manfaat,” katanya.

Ketua WCA Mick Buffier menuturkan bahwa asosiasi tersebut kecewa dan menganggap alasan rencana pengunduran diri tersebut tidak mencerminkan keakuratan pandangan organisasi itu.

“WCA selalu mendukung pendekatan berimbang yang mengintegrasikan kebijakan iklim dan energi,” kata Buffier.

“Kami berharap bisa bekerjasama dengan BHP atas dasar ini [integrasi kebijakan iklim dan energi] di masa depan,” tambahnya.

BHP juga berencana untuk nmengundurkan diri dari kamar dagang AS karena tidak setuju dengan kritik Kamar Dagang AS tentang kesepakatan Iklim Paris terkait perubahan iklim dan penetapan harga karbon.

Rencananya, BHP akan mengomunikasikan pandangan ini sebelum memutuskannya pada atau sebelum Maret 2018.

BHP menambahkan, pihaknya masih tetap menjadi anggota Dewan Mineral Asutralia, namun perusahaan tersebut akan meminta dewan untuk meninjau kembali dukungan batu bara dalam kebijakan energi Australia dan mempertimbangkan kembali keanggotaannya dalam waktu satu tahun, kecuali jika perubahan dilakukan.

Sumber : Reuters

Tag : batu bara
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top