Outlook Minyak Mentah Masih Bullish Pada 2018

Dilansir Bloomberg, sejumlah perusahaan investasi global memaparkan perkiraan harga minyak di tahun 2018 yang cenderung bullish. Namun, ada juga yang memberikan perkiraan yang cenderung netral bahkan bullish.
Aprianto Cahyo Nugroho | 18 Desember 2017 20:38 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Minyak mentah diperkirakan melanjutkan penguatan tahunan di 2017 menyusul keputusan OPEC dan negara-negara produsen lain bulan lalu untuk memperpanjang pemangkasan produksi dalam upaya untuk mengurangi persediaan global.

Dilansir Bloomberg, sejumlah bank investasi global memaparkan perkiraan harga minyak di tahun 2018 yang cenderung bullish. Namun, ada juga yang memberikan perkiraan yang cenderung netral bahkan bullish.

Di antara yang paling bullish adalah Goldman Sachs Group Inc, yang meningkatkan ouloot minyak mentah Brent sebesar hampir 7% menjadi US$62 per barel, dengan alasan komitmen yang lebih kuat dari perkiraan dari OPEC dan produsen lainnya.

Sementara itu, JPMorgan Chase & Co mengatakan fundamental yang solid dan keseimbangan yang ketat, serta kesediaan OPEC untuk menyeimbangkan pasar menjadi alasan untuk prospek positif terhadap minyak.

Di sisi lain, Citigroup Inc. mengatakan ada risiko bahwa fluktuasi permintaan dan pasokan yang dinamis akan berakhir, dan peningkatan output shale AS dapat mengacaukan pasar. Adapun Barclays Plc, mengatakan reli minyak mentah akan mendorong AS dan produsen non-OPEC lainnya untuk meningkatkan output pada 2018 dan kembali meningkatkan pasokan global.

Berikut adalah rincian lebih lanjut mengenai outlook minyak mentah untuk tahun 2018:

Goldman:

-       Mengangkat perkiraan harga Brent di 2018 menjadi US$62 per barel, naik dari US$58.

-       Komitmen yang lebih kuat dari perkiraan oleh Arab Saudi dan Rusia untuk memperpanjang pemangkasan pasokan pada pertemuan OPEC 30 November lalu di Wina menjadi alasan untuk outlook bullish ini.

UBS:

-       Meningkatkan proyeksi Brent di tahun 2018 menjadi US$60 per barel dari US$55

-       Persediaan di OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) diperkirakan turun ke level rata-rata dalam lima tahun terakhir pada kuartal ketiga tahun 2018, ketika penurunan informal dari penurunan yang dipimpin oleh OPEC akan dimulai.

Credit Suisse:

-       Menaikkan outlook minyak Brent 2018 menjadi US$60 per barel dari US$53 per barel.

-       Credit Suisse tersebut mengatakan "komitmen kuat" dari OPEC dan produsen lain untuk memotong kesepakatan akan menyebabkan tingkat persediaan OECD "dinormalisasi" sekitar kuartal ketiga tahun depan.

JP Morgan:

-       Mengangkat perkiraak minyak Brent tahun depan ke level US$60 per barel dari US$58/.

-       Harga minyak tetap stabil secara luas, mencerminkan fundamental yang solid dan keseimbangan yang ketat. Prospek bullish JP Morgan juga didasari oleh kesediaan OPEC dan Arab Saudi untuk menyeimbangkan pasar..

Citigroup:

-       Memperkirakan harga minyak Brent menyentuh US$54 tahun depan.

-       Citigroup tidak mengubah perkiraan harga di tahun 2018 sejak memangkasnya dari level US$ 60 di bulan Juli, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

-       Pemangkasan output yang dipimpin OPEC saat ini akan bertahan hingga pertengahan 2018 atau akhir kuartal ketiga, namun bukan akhir tahun depan.

Barclays:

-       Tidak mengubah perkiraan Brent pada US$55 per barel tahun depan.

-       Optimisme mengenai saat ini harga akan mendorong peningkatan pasokan minyak non-OPEC di luar AS sebesar 500.000 barel per hari masing-masing pada tahun 2018 dan 2019.

Tag : minyak mentah
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top