Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Obligasi Rabu (6/12/2017) Diproyeksi Cenderung Stagnan

Terbatasnya ruang penguatan bagi pasar obligasi dalam negeri menyebabkan pasar cenderung bergerak stagnan.
Memantau layar surat utang negara/Bisnis
Memantau layar surat utang negara/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Terbatasnya ruang penguatan bagi pasar obligasi dalam negeri menyebabkan pasar cenderung bergerak stagnan.

Maximilianus Nico Demus, Kepala Divisi Riset Indomitra Sekuritas, mengatakan bahwa total transaksi dan frekuensi perdagangan obligasi kemarin, Selasa (6/12/2017) turun di bandingkan hari sebelumnya di tengah situasi dan kondisi market obligasi tidak ke mana-mana.

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi kurang dari 1 tahun, diikuti dengan 1 tahun – 3 tahun dan 7 tahun – 10 tahun. Pasar obligasi masih terlihat stagnan, ada kenaikan tetapi rentangnya hanya 5 – 25 bps.

"Tentu saja, karena ruang penguatan sudah terbatas, sehingga mau dipaksakan pun tidak akan membuat obligasi terbang tinggi, tetap harus ada penurunan untuk membuat kenaikkan itu terjadi," ungkapnya dalam riset harian, Rabu (6/12/2017).

Nico mengatakan, memang fase sedang berada tren naik, tapi akan menjadi flat apabila keadaannya terus menerus seperti ini.

Menurutnya, pagi ini, Rabu (6/12/2017) pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif. Secara indikator, pasar obligasi sudah seharusnya terjadi penurunan.

"Namun kenaikan atau penurunan tidak akan terjadi apabila tidak melebihi lebih dari 55 bps. Semua obligasi acuan gagal uji resistensi, karena tidak memiliki kekuatan untuk naik ke atas," ungkapnya.

Beralih dari sana, lanjutnya, dibatalkannya 2 lelang terakhir ternyata bukan hanya karena kecukupan target semata, tetapi justru untuk mengeluarkan obligasi global bond yang tujuannya sama seperti 2 tahun lalu, yaitu pre-funding untuk anggaran 2018.

Hal ini tentu dipilih oleh pemerintah, selain tujuannya untuk menjaga likuiditas dolar pada saat terjadi capital outflow, cost of fund yang murah tentu menjadi tujuan lain, karena spread premium yang terjadi saat ini antara Fed Rate dan kupon yang ditawarkan masih kecil.

"Tentu akan menjadi sesuatu yang berbeda apabila diterbitkan setelah Fed Rate naik pada bulan ini karena kupon obligasi ini tentu akan meningkat," katanya.

Menurutnya, resikonya tetap saja ada, tetapi tentu risiko saat ini lebih kecil apabila kebutuhan anggaran disiapkan saat ini, karena situasi dan kondisi saat ini memberikan keuntungan lebih kepada Indonesia untuk menyiapkan anggaran untuk tahun depan dengan cost of fund yang lebih murah.

"Kami masih merekomendasikan hold hingga potensi jual untuk hari ini," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper