Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Impor Meningkat, Harga Batubara Terus Menguat

Harga batu bara terus menguat seiring dengan meningkatnya impor dari negara konsumen batu bara dunia.
Tempat penampungan batu bara./Bloomberg-Andrew Harrer
Tempat penampungan batu bara./Bloomberg-Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA –Harga batu bara terus menguat seiring dengan meningkatnya impor dari negara konsumen batu bara dunia.

Pada penutupan perdagangan Kamis (12/10), harga batu bara Newcastle kontrak November 2017 menguat 0,15 poin atau 0,16% menuju level US$96,20 (632,93 yuan) per ton.

Tahun lalu, harga mencapai titik terendah US$38,75 (254,95 yuan) per ton pada 16 Februari 2016 dan level tertinggi US$78,75 (518,12 yuan) per ton pada 7 November 2016.

Menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data dari Administrasi Umum Bea Cukai pada Jumat (13/10), import batu bara China pada September naik sebesar 903.000 ton per hari, meningkat hampir 11% yoy dari bulan sebelumnya sebesar 27,08 juta ton, tertinggi sejak April 2014.

Angka tersebut membuat China masih menjadi sentimen positif terkuat dalam memanasnya harga batu bara saat ini di tengah tingginya harga batu bara domestik.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, awal kuartal IV/2017 kebutuhan batu bara masih cukup tinggi dengan melihat adanya peningkatan kebutuhan global pada tahun ini dari level 30% menjadi 31%.

Deddy memproyeksikan, sampai 2035, diperkirakan permintaan China dan India sebagai dua negara pengguna batu hitam terbesar di dunia akan menyumbang sebesar 64% total permintaan global.

Selain China dan India, Vietnam juga turut menambah katalis positif bagi laju harga batu bara.

Adapun penggunaan batu bara di Vietnam didorong oleh tingginya penggunaan pembangkit listrik di negara tersebut.

Berdasarkan data dari perusahaan operator listrik Vietnam, Electricity Vietnam (EVN), batu bara menyumbang 30% dari total listrik yang mencapai 42.000 Megawatt.

Tercatat hingga akhir April, Vietnam sudah mengimpor 4,6 juta ton batu bara dari Indonesia dan Australia. Pada 2020, diperkirakan kebutuhan batu bara Vietnam bisa mencapai 50 juta ton dan akan bertambah lagi menjadi 80 juta ton pada 2030.

“Diproyeksikan sampai 2035 nanti, permintaan batu bara global setiap tahunnya akan tumbuh sekitar 1,1%,” kata Deddy kepada Bisnis, Sabtu (14/10).

Di samping itu, AS di bawah pimpinan Donald Trump telah menarik diri dari perjanjian iklim di Paris. Apabila Trump merealisasikan janjinya, maka tambang-tambang batu bara di AS yang sempat tutup bisa kembali beroperasi.

Kondisi tersebut bisa berdampak positif bagi harga batu bara jika permintaan tetap tinggi karena terjaganya keseimbangan antara demand dan supply kendati semua produsen batu bara memompa produksinya.

Deddy memproyeksikan, pada kuartal IV/2017, harga batu bara berkisar di level US$95—US$110 (625,06—723,76 yuan) per ton.

Sementara itu, di Indonesia, melihat dari sisi dampak akibat tingginya harga batu bara global, Pembangkit Listrik Negara (PLN) merasa terbebani.

Pasalnya, Selama ini PLN membutuhkan 80 juta ton batu bara per tahun untuk memotori sekitar 55% dari total pembangkit listrik saat ini.

Kondisi tersebut sempat membuat PLN meminta penetapan harga khusus batu bara ke ESDM. (Bloomberg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Eva Rianti

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper