Kinerja TAXI : Indikasi Buruk, Dapat Suntikan Modal Induk Usaha

Suntikan pinjaman dari induk usaha PT Express Transindo Utama Tbk., yakni PT Rajawali Corpora senilai Rp37,5 miliar mengindikasikan kinerja keuangan emiten dengan kode saham TAXI ini semakin mengkhawatirkan.
Emanuel B. Caesario | 28 September 2017 20:53 WIB
Taksi Express - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Suntikan pinjaman dari induk usaha PT Express Transindo Utama Tbk., yakni PT Rajawali Corpora senilai Rp37,5 miliar mengindikasikan kinerja keuangan emiten dengan kode saham TAXI ini semakin mengkhawatirkan.

Manajemen TAXI telah menandatangani perjanjian pinjaman dengan Rajawali Corpora senilai Rp37,5 miliar pada 25 September 2017 lalu. Pinjaman tersebut diberikan dengan tenor 5 tahun dan kupon 5% per tahun.

Sebelumnya, Rajawali Corpora juga telah menginjeksi pinjaman senilai Rp46 miliar pada 15 Agustus 2017 lalu yang juga diberikan dengan tenor 5 tahun dan kupon 5% per tahun. Rajawali Corpora merupakan pemilik 51% saham perseroan.

Manajemen perseroan mengungkapkan bahwa tujuan dari transaksi ini adalah untuk mendukung kegiatan usaha dan operasional perseroan.

Yogie Surya Perdana, analis Pefindo, mengatakan bahwa adanya suntikan dari induk usaha tersebut mengindikasikan kinerja keuangan perseroan yang kian berat.

TAXI memiliki utang obligasi senilai Rp1 triliun yang akan jatuh tempo pada Desember 2019. Dengan kinerja keuangannyayang lemah saat ini akibat persaingan dengan angkutan berbasis apliaksi, sulit bagi TAXI untuk melunasi utang tersebut.

Pada semester pertama lalu, pendaptan TAXI turun 57,57% yoy dari Rp374,06 miliar pada semester pertama tahun lalu menjadi Rp157,72 miliar. Rugi TAXI juga membengkak menjadi Rp133,11 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp42,89 miliar.

Pefindo sendiri telah menurunkan peringkat obligasi dan peringkat perusahaan TAXI sebesar 2 notch dari idBBB menjadi idBB+. Hal ini tidak terlepas dari keputusan Mahkamah Konstitusi mencabut Permenhub 26/2017 tentang Transportasi Online pada Agustus lalu.

Outlook perseroan pun negatif yang mengindikasikan masih terbuka potensi penurunan peringkat di masa mendatang bila tidak ada perbaikan kinerja. Peringkat TAXI yang sudah tidak lagi di kelas layak investasi tersebut jelas sangat beresiko bagi investor.

“Kalau kinerja mereka masih terus seperti ini, resiko default menjadi sangat tinggi. Rp46 miliar dari Rajawali itu untuk operasional tetapi juga untuk kupon. Kalau ada suntikan lagi dari induk usaha berarti itu mengindikasikan mereka semakin berat,” katanya pada Bisnis belum lama ini.

Menurutnya, berat bagi TAXI untuk bisa melunasi utangnya. Perseroan harus bisa menemukan opsi refinancing agar bisa mempertahankan bisnisnya. Namun, dengan peringkat surat utangnya yang sudah di bawah investment grade, akan sulit bagi TAXI untuk bisa menggalang dana publik.

Saat ini, TAXI juga masih harus menuntaskan penjualan aset non produktifnya berupa lahan mengangur untuk melunasi beberapa fasiltias utangnya kepada Bank BCA senilai total kurang lebih Rp500 miliar. Tenggat waktu penjualan tersebut adalah hingga Oktober tahun ini.

Bila tidak, BCA akan mencabut grace periode pembebasan cicilan pokok bagi TAXI hingga April 2018 mendatang.

Tag : express transindo utama
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top