Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Obligasi: Tren Bullish Pekan Lalu Akan Berlanjut

Faktor domestik berupa data-data perekonomian yang positif dan posisi fundamental ekonomi yang kuat akan menjadi pendorong kinerja pasar obligasi Indonesia mempertahankan tren bullish-nya saat ini setelah sempat anjlok pada pekan pertama semester ini.
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Faktor domestik berupa data-data perekonomian yang positif dan posisi fundamental ekonomi yang kuat akan menjadi pendorong kinerja pasar obligasi Indonesia mempertahankan tren bullish-nya saat ini setelah sempat anjlok pada pekan pertama semester ini.

Indeks harga obligasi Indonesia telah menunjukkan peningkatan lagi mulai pekan lalu setelah terus melemah sejak awal semester kedua tahun ini dan menyentuh level terendahnya pada Selasa (11/7/2017) di posisi 224,23.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), indeks tercatat menunjukkan rebound sehari setelahnya dan cenderung tetap menguat hingga akhir pekan pada Minggu (16/7/2017) ditutup pada posisi 226,07. Indeks juga kembali menguat pada Senin (17/7/2017) sebesar 18 bps atau 0,08% di level 226,25.

Wahyu Trenggono, Analis IBPA, mengatakan penurunan indeks pada pekan pertama bulan ini disebabkan karena data inflasi Indonesia pada Juni yang relatif tinggi karena faktor lebaran. Meski demikian, investor tampaknya yakin kinerja inflasi akan kembali rendah setelahnya bila berkaca pada tren sepanjang tahun ini sebelum Ramadhan.

Lagi pula, pemerintah telah memutuskan menunda meningkatkan tariff dasar listrik hingga akhir tahun ini dan urung menyesuaikan harga jual elpiji 3 kilogram. Alhasil, inflasi di sisa tahun ini berpotensi tetap rendah.

Hal tersebut mendorong indeks kembali rebound, selain juga karena data inflasi tahunan Amerika Serikat pada Juni hanya 1,6%. Penjualan ritel AS pun turut mengalami penurunan sehingga menyebabkan ekspektasi terhadap peningkatan Fed Fund Rate dalam waktu dekat kian memudar.

“Hal ini akhirnya mengimbangi dampak inflasi yang tinggi karena lebaran kemarin dan itu menunjukkan optimism pasar kita masih cukup bagus dan mendorong reli sampai akhir bulan ini,” katanya, Senin (17/7/2017).

Rendahnya inflasi Amerika Serikat juga berimbas pada pelemahan mata uangnya terhadap rupiah. Rupiah terus menguat dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin (17/7/2017), rupiah kembali menguat 13 poin atau 0,10% ke Rp13.326 per USD dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Menurutnya, hal ini berpotensi menarik kembali investor asing yang sempat keluar dari pasar obligasi Indonesia di awal semester ini. Selain tingkat kupon obligasi Indonesia lebih tinggi, apresiasi mata uang dan inflasi yang rendah turut mendukung peningkatan potensi imbal hasil riil yang akan dikantongi investor.

“Inflasi kita diprediksi tidak akan melonjak lagi dan itu akan mempengaruhi pasar domestik tidak akan kembali di kondisi bearish. Saya melihat, kondisi domestik kita akan lebih dominan pengaruhnya dari pada kondisi global terhadap kinerja indeks di tahun ini,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper