Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks Obligasi Berpotensi Tumbuh Hingga 11%

MNC Sekuritas memperkirakan indek harga obligasi komposit akan meningkat antara 10% hingga 11% sepanjang tahun ini dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA—MNC Sekuritas memperkirakan indek harga obligasi komposit akan meningkat antara 10% hingga 11% sepanjang tahun ini dibandingkan posisi akhir tahun lalu.

Indeks harga obligasi Indonesia telah menunjukkan peningkatan lagi mulai pekan lalu setelah terus melemah sejak awal semester kedua tahun ini dan menyentuh level terendahnya pada Selasa (11/7/2017) di posisi 224,23.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), indeks tercatat menunjukkan rebound sehari setelahnya dan cenderung tetap menguat hingga akhir pekan pada Minggu (16/7/2017) ditutup pada posisi 226,07.

Indeks juga kembali menguat pada Senin (17/7/2017) sebesar 18 bps atau 0,08% di level 226,25.

I Made Adi Saputra, analis obligasi MNC Sekuritas, mengatakan sentimen yang mendorong pelemahan indeks di pekan pertama bulan ini terutama karena isu berakhirnya suku bunga rendah dari sejumlah bank sentral paling berpengaruh di dunia.

Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia juga mengumumkan rencana defisit anggaran tahun ini menjadi 2,92% dalam RAPBN-P 2017 dari semula 2,41%. Hal ini direspon negatif oleh investor.

Akan tetapi, dengan mempertimbangkan adanya penghematan anggaran kementerian dan lembaga, angka yang muncul selanjutnya adalah 2,67%. Untuk memenuhi kebutuhan anggaran, pekan lalu pemerintah juga telah menerbitkan obligasi global baru sehingga meringankan tekanan di pasar domestik.

“Pressure di pasar domestik berkurang sehingga itu yang mendorong kinerja indeks menjadi positif mulai pekan lalu,” katanya melalui sambungan telepon, Senin (17/7/2017).

Selain itu, BPS pun baru saja mengumumkan surplus neraca perdagangan pada Juni lalu sebesar US$1,63 miliar. Sepanjang semester pertama, neraca perdagangan Indonesia telah menunjukkan surplus US$7,63 miliar, atau tertinggi sejak 2012.

Hal ini berpotensi mempertahankan tren reli yang sedang terjadi sebab pada kuartal pertama lalu surplus perdagangan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di saat konsumsi justru menurun. Ada harapan surplus akan tetap berlanjut di sisa tahun ini sehingga tren bullish akan tetap bertahan.

“Saya estimasikan indeks IBPA akan tumbuh 10% hingga 11% full year tahun ini, sehingga sampai kuartal keempat masih akan ada potensi peningkatan, meskipun ancaman global tetap ada,” katanya.

Adapun, indeks komposit pada akhir 2016 berada di level 208,50. Dengan estimasi pertumbuhan 10%-11%, indeks akan berada di level 229,35 hingga 231,43. Indeks sempat menyentuh posisi puncak baru di level 227,67 pada Minggu (2/7/2017) sebelum terus melemah selama sepekan setelahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper