Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SMRA Cetak Prapenjualan Rp675 Miliar di Kuartal I/2016

PT Summarecon Agung Tbk mencatat pendapatan prapenualan atau marketing sales sebesar Rp675 miliar dalam tiga bulan pertama di 2016.

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Summarecon Agung Tbk mencatat pendapatan prapenualan atau marketing sales sebesar Rp675 miliar dalam tiga bulan pertama di 2016.

Jumlah tersebut setara 15% terhadap total target prapenjualan sepanjang tahun ini sebanyak Rp4,5 triliun.

Adrianto P. Adhi, Direktur Utama Summarecon, mengatakan, realisasi prapenjualan di kuartal I/2016 disumbang sejumlah proyek-proyek properti di empat kawasan, yakni Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi, Summarecon Kelapa Gading, dan Summarecon Bandung.

Dia merinci, di Serpong, Summarecon berhasil mendulang pendapatan sebanyak Rp200 miliar, disusul dengan Bekasi sebesar Rp120 miliar, dan Rp80 miliar dari penjualan properti di Kelapa Gading. "Kami juga meluncurkan 106 unit cluster Btari Extension di Bandung, nilainya Rp275 miliar," ujar Adrianto kepada Bisnis, Selasa (5/4).

Dia menambahkan, klaster baru tersebut merupakan perluasan dari klaster Btari yang telah diluncurkan pada November 2015 lalu. Saat itu, perusahaan berkode emiten SMRA itu mendulang prapenjualan sebanyak Rp355 miliar dengan melepas 139 unit rumah tapak. Tahun lalu, SMRA juga merilis satu klaster berkapasitas 261 unit dengan nilai prapenjualan sebesar Rp446 miliar.

Secara umum, kontribusi Summarecon Bandung tahun ini diproyeksi mencapai 26% terhatap target prapenjualan secara keseluruhan. Summarecon Bandung merupakan kawasan baru yang dikembangkan perseroan dengan cadangan lahan mencapai 330 hektare. Di sana, SMRA rencananya akan membangun 2.700 unit rumah dan 15.000 unit apartemen.

Adrianto berharap, realisasi prapenjualan di kuartal pertama merupakan titik terang bagi pemulihan industri properti di tanah air. Pasalnya, sepanjang tahun lalu penjualan properti mengalami penurunan tajam, didorong sejumlah faktor antara lain penurunan daya beli, perlembatan ekonomi, aturan kredit yang lebih ketat, dan isu perpajakan.

Berdasarkan survei properti residensial yang diterbitkan Bank Indonesia, pada kuartal IV 2015, penjualan properti hanya tumbuh 6,02%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2014 sebesar 40,07%. Di samping itu, penjualan properti tahun lalu juga lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata penjualan dalam tiga tahun terakhir sebesar 21,94%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rivki Maulana
Editor : Rustam Agus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper