Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

REKSA DANA: Menyontek Jargon Restoran Padang

sesumbar Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia Denny Taher tak sembarang utopia; jumlah investor menggelembung 5 juta orang dengan nilai kelolaan industri sebesar Rp1.000 triliun pada 2017.
Data Reksa Dana/JIBI
Data Reksa Dana/JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Usai menghadiri ajang penghargaan reksa dana di Grand Hyatt Jakarta, Kamis (3/4), pria tambun yang malam itu tampil necis dengan jas hitam dan dasi merah cerah tampak tak tergugah menyantap hidangan yang tersaji di properti berbintang lima tersebut.

Tiar, begitu Ia disapa, bergegas meninggalkan hotel. Bersama salah seorang pewarta yang juga karibnya, Ia menyambangi salah satu rumah makan Padang terdekat. Soal selera memang sukar ditawar. Masakan serba santan khas dari Tanah Minang memang diidamkannya sejak Sore.

Tak berapa lama, satu porsi nasi lengkap dengan aneka lauk habis dilahapnya, berikut teh tawar hangat pun diseruputnya. Namun, belum sampai tegukan terakhir, Ia tiba-tiba tertegun.

Pandangan salah seorang penggiat investasi di Jakarta itu terperangkap pada tulisan bertinta hitam yang dituangkan dalam kertas karton putih berukuran persegi. Sepasang klausa sederhana yang lazim dijumpai di dinding-dinding rumah makan Padang.

Jika Anda puas beritahu teman, Anda tidak puas beritahu kami. Begitu pesan yang coba disampaikan ke pengunjung.

Agaknya, Tiar terbius dengan gagasan pariwara yang sebetulnya tak dikemas istimewa, tidak pula dipenuhi estetika grafis yang membuatnya lebih atraktif. Ya, hanya terdapat dua kalimat tunggal yang sarat makna persuasif.

“Bener juga nih, Ade dan Rivki juga harus ikut [investasi] reksa dana. Siapa tahu, dalam 5 tahun ke depan, kita punya cukup modal bangun lapangan baru di tempat lain,” seru Tiar bersemangat.

Telepon genggam yang sedari tadi menganggur di atas meja makan segera diraihnya. Ia seperti tak sabar menularkan energi yang sama kepada temannya yang lain, seperti yang diperolehnya dalam beberapa waktu terakhir.

Tiar dan beberapa teman memang merintis usaha patungan, pengembangan gedung olahraga bulu tangkis di kawasan Selatan Jakarta.

Dalam beberapa tahun ke depan, kawanan sejawat ini berencana membangun lapangan baru di lokasi berbeda. Modal yang dibutuhkan tentu tak sedikit. Belum lagi, Ia baru saja kehilangan Rp150 juta lantaran ditipu broker gadungan yang mengiming-iminginya imbal hasil investasi valas.

Sadar wawasan investasinya rendah, Ia merasa butuh banyak informasi. Malam itu, Tiar memang sengaja menyempatkan waktu luangnya untuk lebih mengenali kinerja produk reksa dana pilihan Bloomberg dan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI).

Beberapa nama produk besutan manajer investasi terekam di catatannya, terdiri dari lima kategori terbaik di kelas aset syariah, tematik, pendapatan tetap, denominasi dolar Amerika Serikat, serta ragam indeks lainnya. Dari lima kategori itu, sebanyak 17 penghargaan disebar untuk setiap standar yang lebih spesifik.

Ajang apresiasi tahunan itu jelas diharapkan meningkatkan daya tarik industri serta membantu Tiar dan investor lainnya untuk mengidentifikasi produk unggulan serta kemungkinan mendiversifikasi portofolionya.

Namun, tak sepatah kata pun yang menjelaskan urgensi seseorang berinvestasi. Acara itu cukup sesak dijejali gambaran kepiawaian manajer investasi mengelola dana. Tak heran, kepala pemodal hanya diinjeksi imbal hasil nan menggiurkan.

Peserta yang hadir pun sebagian besar merupakan kelompok penggiat industri yang boleh dibilang kewalahan menghimpun massa, setidaknya dalam 2 dekade terakhir sejak reksa dana diperkenalkan di Indonesia.

Energi malam itu jelas-jelas hanya menggumpal di antara manajer investasi serta investor yang kebagian untung besar di beberapa produk berkinerja ciamik, sama sekali tak berpengaruh banyak untuk menginfeksi calon nasabah yang bertaburan di luar gedung.

Akui saja, perkembangan investasi reksa dana kurang semarak. Jumlah pemegang unit penyertaan ditaksir hanya berkisar 450.000 nasabah. Bahkan, jika diidentifikasi lebih teliti,pemodal yang menggiatkan industri mungkin tak sampai separuhnya.

Sosialisasi digelar tanpa militansi. Seminar dan kelas investasi yang kerap dilakukan terkesan buang-buang energi karena tersentralisasi di kota-kota besar di Indonesia. Manajer investasi juga kepayahan karena tak cukup kuat jejaring di daerah.

Hasilnya? Industri lesu darah. Sekitar 80% investor reksa dana hanya tersebar di pulau Jawa, di mana lebih dari 90% terkonsentrasi di Jakarta.

Tak sedikit masyarakat di seberang pulau luput dari jangkauan, manusia-manusia yang di antaranya masih konservatif menaruh aset kekayaan di bawah bantal atau menguburkannya di dalam tanah.

 Beberapa memang sudah melek investasi, kendati masih begitu mendewakan tabungan dan deposito. Untuk kelompok ini, mereka belum sadar betapa pergerakan inflasi mampu menyalip bunga deposito.

Faktanya, dalam 10 tahun terakhir, tingkat bunga tabungan dan deposito masih di bawah rerata inflasi sebesar 7,4% per tahun (Data dari Biro Pusat Statistik, 2014).

“Masyarakat seringkali lupa menghitung besaran kenaikan riil penghasilan dan aset-aset tersebut dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa,” cecar Agus Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen.

Bertambahnya upah sebesar 10% dibandingkan dengan tahun lalu tentu tidak akan mengejar kebutuhan hidup yang naik 18%, misalnya. Deposito di bank dengan bunga bersih 6% setelah pajak pun belum bisa menutup tingkat inflasi tahun lalu sebesar 8,38%.

Pada dasarnya, masyarakat berhak mengalokasikan dananya pada beragam aset investasi yang memiliki karakteristik produk, risiko, potensi imbal hasil, dan jangka waktu berinvestasi idealnya masing-masing.

Namun, tak ada salahnya melirik reksa dana yang memuat aneka aset dasar mulai dari deposito, properti, saham, surat utang di dalam satu paket sekaligus. Ibarat menu makanan, reksa dana disajikan lengkap.Toh, performa reksa dana diharapkan lebih ‘nikmat’ dari kinerja aset dasarnya itu.

Di sisi lain, pesan-pesan urgensi terkait kebutuhan investasi lebih diperlukan ketimbang kampanye yang menitikberatkan preferensi produk. Betul, calon investor mulanya tentu bingung memilih produk, tapi tahap itu baru akan dicapai setelah mereka tergerak mencari tahu.

Sudah pasti, industri menginginkan sosok-sosok Tiar yang bertambah sangat cepat. Untuk itu, penyampaian gagasan yang mengakar pada esensi berinvestasi perlu diadaptasi secara agresif. Dalam perspektif komunikasi, strategi penyampaian pesan diadik sudah pasti paling efektif.

Apalagi, di era modern saat ini, saluran komunikasi di jejaring sosial berserakan. Siapa saja yang terlibat di industri perlu bergerak, sebab meningginya timbunan dana akan meningkatkan mutu industri itu sendiri dan mengantisipasi risiko investasi di reksa dana.

Peluang terbuka lebar. Sedikitnya 45 juta orang kelas menengah potensial dijaring. Beleid jalur distribusi di sentra-sentra ritel juga perlu segera diketok palu, serta kelonggaran-kelonggaran lainnya yang dibidani otoritas.

Bayangkan, seorang kawan datang ke minimarket setelah anda menceritakannya pengalaman berinvestasi reksa dana. Unit penyertaan dapat diperoleh semudah membeli kacang di warung.

Pada akhirnya nanti, kabar baik ini dapat mengadiksi banyak kepala, bahkan untuk orang-orang yang anda kenal dan masih mempercayakan asetnya beranak pinak di bawah ranjang.

Kita pun dapat membuktikan sesumbar Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia Denny Taher tak sembarang utopia; jumlah investor menggelembung 5 juta orang dengan nilai kelolaan industri sebesar Rp1.000 triliun pada 2017.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper