Kamis, 27 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

SAHAM SRITEX: Listing Perdana dibuka stagnan Rp240

Vega Aulia Pradipta   -   Senin, 17 Juni 2013, 10:44 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA—Perusahaan tekstil dan garmen terintergrasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) resmi mencatatkan sahamnya (listing) di bursa hari ini, Senin (17/6/2013). Saham emiten berkode SRIL itu dibuka stagnan di Rp240 per saham.

Saham SRIL sempat menyentuh harga terendah di Rp200 per saham dan harga tertinggi di Rp290 per saham. Transaksi terakhir terjadi di harga Rp235 per saham, dengan transaksi mencapai 37.000 lot dengan volume mencapai Rp4 miliar.

Sritex melepas 5,6 miliar saham ke publik atau 30,12% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan harga penawaran Rp240 per saham. Dana hasil IPO yang diperoleh mencapai Rp1,344 triliun dan mengalami kelebihan permintaan hingga tiga kali.

Dana hasil IPO akan digunakan 87% untuk ekspansi divisi spinning (pemintalan) dan 13% akan digunakan untuk ekspansi divisi garmen.

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia mengatakan Sritex menjadi emiten ketigabelas tahun ini dan menjadi emiten ke-468 di bursa. Hoesen berharap setelah listing, ketentuan sebagai perusahaan tercatat, bisa dipenuhi oleh Sritex dengan baik.

“Kami harap ini jadi momen yang penting untuk perusahaan lain agar ikut juga mencatatkan diri di bursa,” ujarnya di Gedung BEI, Senin (17/6/2013).

Direktur Utama Sri Rejeki Isman Iwan Setiawan mengatakan tujuan utama perseroan masuk bursa adalah untuk mencapai efisiensi dan akuntabilitas, sehingga data perseroan bisa diakses oleh publik.

“Selain itu, terkait akses ke pasar modal juga diharapkan kami bisa dapatkan fleksibilitas dalam pengembangan usaha sesuai visi kami sebagai perusahaan yang berorientasi pada keuntungan,” ujarnya.

PT Bahana Securities bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro mengatakan dalam roadshow IPO, Sritex diperkenalkan hingga investor di luar negeri.

“Kami ingin mematahkan anggapan bahwa industri tekstil seperti ini sunset. Ternyata dengan Sritex ini jadi contoh atau etalase, ini menunjukkan bahwa industri ini tidak selalu seperti itu. Dalam roadshow, kami juga bersama-sama dengan manajemen ingin menunjukkan bahwa industri tekstil masih bisa bersaing,” ujarnya.

Eko juga menepis anggapan bahwa dana hasil IPO Sritex di bawah target sebesar Rp1,5 triliun. Menurutnya, itu hanyalah ‘harapan’ dari maksimum dana yang bisa diraih. Adapun komposisi investor pembeli saham Sritex terdiri dari asing 40—45% dan domestik 55—60%.

Setelah IPO, komposisi pemegang saham Sritex adalah PT Huddleston Indonesia 56,07%, PT Estrada Trading Ltd 13,76%, Haji Muhammad Lukminto 0,05%, dan publik 30,12%.   (ra)


Source : Maftuh Ihsan

Editor : Rustam Agus

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.